Rabu, 02 Maret 2016

“MEDICAL ANTHROPOLOGY IN ECOLOGICAL PERSPECTIVE (fifth edition)”

Berikut merupakan salah satu review buku yang telah saya baca dan sangat bagus untuk kita jadikan dasar dalam memahami aspek ekologi kesehatan dan penyakit sehingga dapat kita jadikan dasar berpijak dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia.

“MEDICAL ANTHROPOLOGY IN ECOLOGICAL PERSPECTIVE (fifth edition)”
Ann Mc Elroy dan Patricia K. Townsend


Bab 1. Aspek ekologi kesehatan dan penyakit
Antropologi kedokteran mempelajari aspek kesehatan pada berbagai variasi kondisi lingkungan dan budaya. Dalam antropologi kedokteran, suatu metode serta teori yang digunakan pada lingkungan yang luasnya terbatas dan terisolasi dapat digunakan untuk menjelaskan masalah kesehatan pada situasi komunitas yang lebih kompleks. Untuk lebih memahaminya kita dapat mengambil contoh suatu penelitian multidisiplin di Nepal yang meneliti aspek kesehatan, tumbuh kembang serta cara bertahan hidup anak-anak jalanan di Kathmandu, Nepal. Serta mempelajari bagaimana penduduk di daerah arctic dapat bertahan di lingkungan yang sangat dingin, usaha mereka untuk mendapatkan makanan, menjaga suhu tubuh mereka untuk tetap hangat, serta membatasi pertumbuhan penduduk.
Medical ecology dan biocultural anthropology digunakan oleh medical antropologist untuk mempelajari masalah kesehatan. Kombinasi antropologi, ekologi dan pengobatan menciptakan suatu framework untuk mengerti masalah kesehatan dari sudut pandang yang berbeda dari penelitian klinis.
           Secara konsep lingkungan dibagi menjadi 3 yakni lingkungan fisik/abiotik, biotik dan budaya. Setiap unsur saling berkaitan dan akan mempengaruhi unsur lainnya. Ini merupakan model ekosistem yakni suatu hubungan antara organisme dengan lingkungannya. Model ini membangun suatu konsep tentang aspek ekologi dari kesehatan dan penyakit karena tidak ada penyakit yang disebabkan hanya oleh 1 faktor. Sehat dan sakit terjadi dalam interaksi sistem fisik, biologis dan budaya yang secara terus menerus saling mempengaruhi.

Bab 2. Penelitian interdisipliner dalam masalah kesehatan.
Masalah kesehatan dalam konteks ekologi memerlukan banyak jenis informasi seperti data lingkungan, data klinis, data epidemiologis, dan data sosial budaya. Untuk mendapatkan data tersebut memerlukan kontribusi dari ilmu biologi dan lingkungan, kedokteran klinis, demografi dan biostatistik, dan ilmu sosial dan perilaku. Antropologi medis dan ekologi medis tergantung pada kerjasama antar disiplin ilmu.

Biodata Lingkungan
Ekologi mempelajari hubungan antara populasi dengan lingkungan yang merupakan ekosistem. Ekosistem selalu terkait dengan wilayah geografis tertentu dalam hal ini beberapa disebut dengan bioma yang memiliki kesamaan sesuai kondisi geografis. Unit dasar ekologi adalah suatu populasi yang saling berinteraksi dan memiliki aliran energy dimana ada kompetisi untuk beberapa sumber daya yang sama. Tipe lain dari koeksistensi adalah hubungan predator-mangsa. Bentuk nyata koeksistensi adalah simbiosis dimana ada parasitisme komensal dll.
Kedokteran klinis adalah salah satu sumber dasar data tentang kesehatan dan penyakit untuk studi antropologi medis. Penyakit dapat didefinisikan sebagai penyimpangan kondisi klinis dan biologis tubuh yang ikut dipengaruhi oleh lingkungan fisik, mental, social dan budaya.
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit serta fakor yang terkait di tingkat populasi yang membantu menginformasikan kedokteran berbasis bukti  untuk mengidentifikasikan faktor risiko penyakit serta menentukan pendekatan penanganan klinis yang optimal.
Anthropologi memiliki Sistem Informasi Geografis (GIS) yang dapat menganalisa penyakit dengan peta geografis, selain itu dalam anthropologi juga sudah dilakukan studi ethnoscientific dan ethnosemantic. Profesi anthropologist saat ini sudah menjadi suatu profesi yang membanggakan.


Nutrisi dan Pola Makan
Nutrisi dan pola makan mempengaruhi pertumbuhan, bentuk tubuh dan variasi penyakit pada manusia. Penyakit secara anthropologi juga mempelajari evolusi penyakit sebagai akibat faktor budaya, migrasi dan urbanisasi.
Sektor pariwisata mempunyai dampak globalisasi infeksi menular, dimana pada buku ini dibahas penyebaran infeksi menular seksual (IMS) yang dapat menyebabkan HIV.
Identitas penderita HIV/AIDS dan pengguna narkoba yang bekerja sebagai informan akan dirahasiakan

Antropologis Medis
Penilaian individu terhadap status kesehatan merupakan salah satu faktor yang menentukan perilaku. Antropolog Edward Wellin menemukan kegagalan dari program departemen kesehatan Peru dalam membujuk keluarga untuk merebus air minum untuk membunuh kuman yang menyebabkan diare karena kepercayaan yang dianut masyarakat.
Makna sakit di masyarakat adalah sejauh ia tidak dapat memenuhi kewajiban normalnya terhadap warga lain dan ia dianggap berbahaya bagi kelompok tersebut.

Bab 3. Gen , Kultur dan Adaptasi
Adaptasi manusia mencakup berbagai mekanisme, tanggapan, dan ciri-ciri yang meningkatkan kelangsungan hidup dalam menghadapi tekanan lingkungan. Perubahan genetik terjadi pada tingkat populasi melalui seleksi alam, migrasi, mutasi dan proses lainnya. Profil pertama menggambarkan bagaimana perubahan genetik pada hemoglobin terkait
Adaptasi adalah perubahan dan variasi dalam suatu populasi yang berkembang dari waktu ke waktu dalam lingkungan tertentu. Beberapa anthropologists menggunakan istilah adaptasi untuk merujuk sifat berkembang seperti penglihatan warna,jempol , bipedalisme, dan otak besar. Sosiobiologi juga mengacu adaptasi sebagai karakteristik fisik dan perilaku yang meningkatkan kemampuan dalam mewariskan gen seseorang atau gen dari kerabat seseorang kepada generasi berikutnya. 
Faktor-faktor yang mendorong perubahan evolusi manusia, dan mekanisme perubahan terjadinya variabilitas manusia dibentuk oleh stres lingkungan yang merupakan  dasar dari adaptasi.
 Perbedaan ukuran tubuh dan bentuk tubuh mencerminkan adaptasi genetik untuk iklim. Tungkai pendek dan kompak serta tubuh besar dari pemburu Arktik membantu menghemat panas tubuh di iklim dingin yang ekstrim, sedangkan anggota badan relatif panjang dan fisik linear dari orang di Afrika Timur dapat membantunya mengusir panas tubuh. Selain bentuk tubuh dan ukuran tubuh,tempat tinggal juga menggambarkan adaptasi budaya dengan suhu dalam tubuh. Selain itu bentuk tubuh sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan berinteraksi dengan pola diet, metabolisme, dan aktivitas.

Faktor Genetik pada Ketahanan Terhadap Suatu Penyakit
Penyakit infeksi memainkan peran selektif dalam evolusi manusia, terutama  penyakit yang mengurangi tingkat kesuburan dan meningkatkan angka kematian pada bayi dan anak sehingga menyebabkan perubahan genetik yang sangat kuat. Penyakit seperti demensia, non-insulin dependent (tipe 2) diabetes, dan arteriosklerosis, kurang memiki peran dalam terjadinya seleksi karena orang tersebut telah menyelesaikan proses reproduksi sebelum penyakit berkembang. Manusia, mikroorganisme penyebab penyakit dan vektor sama sama melakukan adaptasi genetic untuk dapat menjaga kelangsungan hidupnya.



Evolusi Pengobatan
Evolusi pengobatan membutuhkan kolaborasi antara dokter dan antropolog yang berusaha untuk memahami dan mencegah gangguan metabolisme dan sistem kekebalan tubuh.

Fisiologi Dan Perkembangan Adaptasi
Tubuh dapat beradaptasi terhadap berbagai perubahan lingkungan yang berupa kemampuan untuk tumbuh dan berkembang, respon metabolisme terhadap perubahan iklim dan gizi, stres tanggapan hormonal, dan pengembangan antibodi dalam menanggapi antigen dan hal tersebut dapat disebut sebagai plasticity.
Adaptasi fisiologis memiliki beberapa tingkatan antara lain Aklimasi atau penyesuaian respon adaptasi jangka pendek pada stressor tunggal dan bersifat reversible. Yang kedua yakni Plastisitas atau pengembangan konsep aklimatisasi yang dikembangkan oleh Gabriel Lasker yang menyebutkan plastisitas bersifat ireversibel tetapi bukan merupakan perubahan yg diturunkan melalui pertumbuhan dan perkembangan (Schell 1995).

Bab 4. Perubahan Pola Penyakit dan Kesehatan
Budaya merupakan strategi adaptasi manusia terhadap lingkungan. Budaya juga mengalami evolusi social budaya yang berupa peningkatan ide, pengetahuandll sehingga menjadi lebih kompleks. Evolusi budaya ini juga berpengaruh terhadap perubahan organism penyakit sehingga terjadi pergeseran jumlah dan jenis penyakit. Di negara-negara industri, penyakit degeneratif menduduki peringkat pertama penyebab utama kematian. Selain itu, bahaya lingkungan baru dan risiko penyakit akibat kerja meningkat pada masyarakat industri.
Evolusi budaya memiliki tiga aspek: peningkatan kompleksitas, meningkatkan energi
mengalir, dan peningkatan ukuran populasi dan kepadatan. Dimensi lain dari evolusi sosial budaya adalah aliran energi melalui sistem. Leslie Putih (1969) adalah pendukung utama dari antropologi pandangan bahwa evolusi budaya secara fundamental ditandai dengan meningkatnya jumlah aliran energi. Dalam masyarakat skala kecil, panas dari kayu bakar dan energy makanan berubah menjadi kekuatan otot mewakili aliran seluruh energi melalui sistem budaya. Dalam perkembangan budaya berkembang, tenaga hewan, tenaga angin, dan air menjadi kekuatan pada masyarakat pertanian. Dalam masyarakat industri, bahan bakar fosil sangat memperluas aliran energi melalui sistem.

Bahaya bahan-bahan kimia pada masyarakat industri
Bahaya bahan kimia bisa kita lihat pada tragedi ledakan pipa di daerah padat penduduk yang mengandung bahan toxic Methylisocyanat (MIC) oleh pabtik The Union Carbide yang menewaskan 20.000 orang tahun 1984 di Bhopal, India Tengah. Faktor-faktor yang berpengaruh pada kejadian ini termasuk desain yang buruk, sumber daya manusia yang tidak kompeten, fasilitas pendukung yang kurang memadai, penanganan masalah emergensi yang kurang, human error atau mungkin sebuah sabotase ( Shrivastava 1987; APHA 1987; Rajan 2002). Penduduk juga tidak tahu menahu pabrik tersebut memproduksi barang apa. Dampak dari bencana Bhopal mengingatkan pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung seperti transportasi, fasilitas medis serta penyelesaian masalah terkait kecelakaan industry kimia.
Melihat kejadian diatas kelompok antropologis di Carolina Utara berusaha mengurangi paparan pestisida pada petani yang tidak waspada dengan bahaya pestisida yang dapat diabsorpsi lewat kulit, mulut dan paru-paru karena bisa menyebabkan defisit neurologis, kanker serta infertil.
Perubahan budaya pada masyarakat india dan Pakistan juga terlihat banyaknya kasus retardasi mental pada anak anak yang diberi eyeliner hitam karena absorbs timbale sulfide oleh kulit mereka. Timbal juga bisa meracuni anak-anak dari pemakaian cat tembok rumah, emisi mobil dan sebagainya. Keracunan merkuri juga sangat banyak terjadi di daerah Minamata, Jepang, dimana penduduk disana mengkonsumsi ikan atau kerang-kerangan dari Teluk Minamata. Keracunan akut ditandai dengan rasa kesemutan pada jari, lidah, bibir serta pandangan kabur, sementara ibu hamil dapat melahirkan bayi dengan kelainan kongenital, kematian ataupun kerusakan otak.

Bahaya Nuklir pada daerah industri
      Teknologi nuklir jelas memberikan dampak yang tidak baik bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Banyak efek dari bom-bom atom yang sudah terbukti memberikan penyakit pada manusia seperti anemia, leukemia atau kanker lain. Chernobyl , Tanah Navajo (New Mexico), Horosima, Nagasaki adalah contoh-contoh daerah dengan korban bahan kimia nuklir.

Bab 5. Nilai Ekologi dan Ekonomi dari Nutrisi
Bentuk diiit terbentuk oleh lingkungan biofisik dan budaya.. Kultur yang berbeda akan memberikan perbedaan dalam penyediaan makanan, yang akan memberikakan identitas suatu etnik tertentu. Manusia memerlukan energy, makro nutrient,mikronutrien dan trace elemen untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Kebutuhan tiap manusia berbeda-beda  tergantung usia, jenis kelamin, status kesehatan, aktifitas serta tingkat metabolisme seseorang. Kelebihan dan kekurangan elemen gisi dapat menimbulkan seperti Xeropthalmia akibat kekurangan vitamin A yang dapat menimbulkan kebutaan.
Dalam antropologi medis,perburuan sangat penting dalam menjaga kelangsungan hidup  sebelum pertanian modern berkembang. Keseimbanngan makanan hewani maupun nabati dari alam menentukan budaya makan seseorang. Manusia di gurun atau semi gurun jarang mendapatkan kalori dari produk hewani seperti yang dipelajari oleh antropologis  di Great Basin of North America, Central 7 Western Australia and Kalahari Desert of South Africa.
Diet dan nutrisi di masa lampau dapat diketahui dari pemeriksaan kolagen, protein utama pada tulang, rasio isotop karbon pada beberapa grup tanaman yang berbeda yang dapat merujuk jumlah daging yang dikonsumsi pada masa sebelumnya. Coprolites, juga dapat memberikan informasi mengenai nutris seseorangi. Test kimiawi dari fosil feses, Harris lines pada X-ray tulang panjang, serta hipoplasia enamel dapat menunjukkan stres nutrisi pada masa lalu. Berdasarkan hal tersebut paleopathologist dapat memberikan saran perubahan nutrisi apa yang harus dilakukan seiring dengan berlalunya waktu. Contohnya adalah penemuan porotic hyperostosis, sebagai tanda dari anemia defisiensi besi, dimana ditemukan adanya tulang tengkorak dan tulang rongga mata yang datar, menebal dan porus. Hal ini dikaitkan dengan nutrisi yang rendah zat besi, serta adanya faktor lain seperti infeksi.
Dengan mempelajari penyakit melalui catatan arkeologis kita dapat melihat bagaimana perubahan lingkungan, diit, politis dan ekonomi dalam jangka waktu yang panjang dapat mempengaruhi suatu populasi. Contoh adalah studi arkeologi pada suku  Black Mesa di Amerika timur selatan dimana 87% menunjukkan anemia, porotic hiperostosis, porus, lesi seperti koral,pada tulang tertentu seperti tengkorak, orbital, dan pada ujung tulang panjang.
Gizi buruk di daerah perkotaan, dan di daerah pedesaan di mana orang tergantung pada tanaman, lebih terkait erat dengan ketimpangan ekonomi daripada ekologi tanaman. Kemiskinan dan pertumbuhan penduduk berkontribusi terhadap malnutrisi kalori protein pada anak-anak.


Bab 6. Budaya, Ekologi dan Reproduksi
               Konsepsi, kehamilan dan kelahiran berasal dari peristiwa biologis dan berpola pada budaya. Terdapat variasi ide budaya dalam peristiwa pembuahan, bagaimana janin berkembang, bagaimana melindungi wanita hamil, dan di mana kelahiran harus terjadi. Manusia telah mengembangkan pola reproduksi secara spesifik dengan ciri tingkat kelahiran yang rendah dan investasi orangtua yang tinggi pada keturunannya.
               Tingkat kesuburan dan fertilitas manusia bervariasi dan dipengaruhi oleh gizi, jenis pekerjaan, dan kesehatan umum. Praktek untuk meningkatkan fertilitas, metode pengendalian kelahiran, dan perilaku untuk mencegah penyakit juga bervariasi. Aborsi atau pembunuhan bayi dalam sejarah Eropa menunjukkan bahwa kemiskinan menempatkan stres khusus pada ikatan ibu-bayi.
Proses kehamilan dan kelahiran menjadi suatu industry yang memiliki beragam pola yang menjadi budaya seperti melahirkan dengan tanggal yang diinginkan, melahirkan dengan SC melahirkan dalam air, di rumah dll.
Kesehatan reproduksi pada wanita tidak hanya pada kehamilan dan segala macam proses di dalam nya akan tetapi juga menangani  manajemen menopause. Banyak pendekatan medis yang sudah dilakukan seperti hormone replacement therapy untuk mengurangi dispareuni.
Fekunditas adalah potensi untuk bereproduksi sedangkan fertilitas adalah kesuburan seseorang. Banyak hal yang mempengaruhinya seperti pada fekunditas pria seperti viabilitas sperma sedangkan pada perempuan kualitas ovum dan musim (Panter-Bricks), sedangkan fertilitas tergantung pada kondisi fisik dan faktor perilaku.
Fekunditas dan fertility yang tinggi dapat menyebabkan ledakan penduduk dunia sehingga dilakukan upaya pengendalian dengan program pembatasan jumlah anak dan kontrasepsi. Kontrasepsi juga digunakan sebagai alat untuk mencegah infeksi menular seksual. Karena menurut penelitian di Hartford kebanyakan seorang individu pernah berhubungan seksual dengan lebih dari satu orang
Disaat ini selain tingginya angka kelahiran yang harus ditekan, pada penduduk modern saat ini juga memiliki banyak masalah infertilitas yang banyak dipengaruhi polusi lingkungan akibat industry dll. Sehingga pada saat ini pengobatan infertilitas juga sangat berkembang seperti penggunaan metode bayi tabung untuk mengatasi masalah infertilitas ini

Penggunaan Pendekatan Dan Metode Antropologi Dalam Upaya Memahami Perilaku Penggunaan Kondom Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS)
Terdapat 3 tipe dalam orientasi hubungan  seksual yaitu: 1) Kasual Relationship (seks bebas atau seks untuk uang/materi), 2) Ending  friendship ( pertemanan dekat dengan sesekali melakukan hubungan seksual), 3)  More serious relationship (hubungan seks dengan pacar atau calon pasangan hidup). Kondom dipakai hanya untuk hubungan tipe 1 dan 2 dengan alasan seks yang tidak melibatkan hubungan emosional. Sebalikanya kondom tidak akan dipakai  dalam hubungan yang lebih serius. Penggunaan kondom dianggap sebagai bentuk ketidak percayaan terhadap pasangan. Masyarakat memahami bahwa kondom dapat mencegah  terjadinya PMS dan penularan HIV/AIDS. Namun kondom bukan pilihan sebagai alat kontrasepsi.

Proses Reproduksi Dan Dukungan Sistem Sosial
Syndroma“baby bluesmerupakan kejadian depresi pada ibu yang baru melahirkan. Masyarakat tradisional menganggap hal ini merupakan gangguan roh jahat, sementara masyarakat barat (modern) menganggap kejadian ini akibat pengaruh hormonal. Faktor penyebabnya diduga bermacam-macam, diantaranya perasaan terisolasi, tekanan keuangan, tidak adanya aktivitas sosial, partus yang tidak direncanakan dan perasaan kelelahan yang dialami oleh seorang wanita yang baru melahirkan. Sehingga dukungan keluarga sangat diperlukan bagi seorang ibu.

Hubungan Ibu dan Bayi Baru Lahir
Bayi sangat tergantung dengan pengasuhan orang lain untuk membantu kehidupannya. Bonding adalah respon dan ikatan emosional yang dalam, mirip orang jatuh cinta, tidak hanya bersifat biologis tapindipengaruhi oleh budaya bahkan dimulai sejak ibu merasakan gerakan janin pada minggu ke-4  kehamilannya.
Ayah juga terlibat dalam ikatan emosional yang kuat dengan anakknya, bahkan sejak di dalam kandungan, pada saat. Laki-laki akan terlihat ekspresif saat istrinya hamil, melahirkan dan sesudah melahirkan. Keterlibatan ayah  selama  proses kehamilan sampai persalinan sering luput dari perhatian.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa bayi yang dipisahkan dari ibunya kakan memiliki imunitas yang walaupun mereka diberikan asupan gizi dan nutrisi yang cukup. Setelah dipertemukan kembali, anak akan terlihat tertekan dan menghindari ibunya.
Bonding menjelaskan bila “perode sensitif” telah terlewati, masa-masa setelahnya sulit untuk menciptakan ikatan yang kuat..
Budaya sangat berpengaruh dalam bonding. Di Amerika Utara yang angka kematian bayinya rendah terdapat tradisi hadirnya keluarga besar dalam proses menanti kelahiran bayi, berbeda dengan daerah angka kematian bayi tinggi, mereka menunda ekspresi kegembiraan sampai kondisi ibu dan bayi benar-benar stabil.

Bab 7.  Stress, penyakit dan penyembuhan
            Distribusi luas dari gangguan seperti skizofrenia dan depresi dengan gangguan yang lebih langka yang disebut sindrom budaya-terikat, gangguan perilaku akut biasanya terbatas pada budaya daerah tertentu (Simons dan Hughes 1985). Salah satu sindrom budaya-terikat paling dipelajari oleh antropolog medis adalah histeria Arktik, atau pibloktoq, gangguan terlihat di daerah kutub. Arktik histeria adalah kondisi sementara daripada penyakit mental kronis. Contoh pasien, biasanya seorang wanita, mulai berteriak dan merobek dan menghancurkan pakaiannya. Jika di kapal, dia akan berjalan naik dan turun dek, berteriak dan isyarat, dan umumnya dalam keadaan telanjang, meskipun suhu mungkin berada di empat puluhan. Sebagai intensitas serangan meningkat, dia kadang-kadang akan melompati rel atau es, berjalan mungkin setengah mil. Serangan dapat berlangsung beberapa menit, satu jam, atau bahkan lebih; dan beberapa penderita menjadi begitu liar bahwa mereka akan terus berjalan di atas es sempurna telanjang sampai mereka membeku sampai mati jika mereka tidak secara paksa dibawa kembali. (Dikutip dalam Foulks 1972: 13)
           
Mengklasifikasikan syndrome budaya-terikat
            Simons dan Hughes (1985) membagi syndrome budaya-terikat menjadi lima kategori utama: kelumpuhan tidur, penyerangan massa tiba-tiba, penyakit demam, paksaan kanibal, dan kecemasan tentang retraksi genital. Selanjutnya, pengecualian beberapa sindrom, termasuk histeria Arktik. Beberapa sindrom budaya-terikat melibatkan respon neurofisiologis, Sindrom budaya-terikat bervariasi secara epidemiologis, orang Yunani dan Kanada, Nevra kebanyakan mempengaruhi perempuan. Amok, bentuk histeria di New Guinea, Indonesia, dan Malaysia, kebanyakan terjadi di kalangan pria muda.
            Teori stres menawarkan model yang berguna menghubungkan lingkungan, budaya, individu kesehatan, dan kesejahteraan penduduk. Dalam studi stres sosial, penelitian terbaik desain mencoba untuk menghubungkan faktor biokimia dengan sosial dan lingkungan tekanan. Tanpa data neuroendocrinologi, antropolog tidak mampu untuk mempelajari jalur biokimia yang dapat menyebabkan penyakit mental, kecanduan, dan sindrom budaya-terikat. Demikian pula, tanpa pertimbangan sosial budaya matriks kesehatan dan penyakit, perspektif biokimia gagal untuk memperhitungkan untuk peran emosi, belajar, kognisi, dan stressor simbolis dalam resistensi manusia dan adaptasi.

Bab 8. Health Resources pada Perubahan Budaya
            Perubahan budaya yang cepat adalah salah satu stres yang paling menghancurkan pada populasi kesehatan. Perubahan budaya yang dihasilkan dari eksplorasi, perdagangan, migrasi dan bentuk budaya lain di populasi mempengaruhi ekologi kesehatan dalam banyak cara. Perawatan kesehatan yang melibatkan perilaku diselenggarakan untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit fisik atau tekanan emosional, dan untuk manajemen penyakit atau cacat.
Kebutuhan pengungsi akibat bencana alam dan konflik politik menciptakan tantangan bagi negara-negara tuan rumah, pekerja bantuan dan organisasi serta ilmuwan sosial. Krisis kesehatan yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS adalah ujian bagi kebijakan publik kesehatan, etika medis, dan sumber daya keuangan di setiap negara. Penelitian tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS menggambarkan faktor budaya, sosial, dan politik yang mempengaruhi dampak penyakit ini secara global.

Model untuk Studi Proses Kontak
            Perubahan kesehatan yang mengikuti kontak budaya terjadi dalam empat kategori utama: epidemiologi, demografi, gizi, dan kesehatan yang saling terkait sinergis. Ketika ada perubahan dalam satu sistem, kita dapat mengharapkan perubahan dalam tiga lainnya. Misalnya, peningkatan kejadian penyakit (epidemiologi) dapat menyebabkan tingkat kematian yang lebih tinggi di antara kelompok usia termuda (mengarah ke perubahan demografi).

Dampak dari budaya
Hubungan antara negara yang terbelakang dengan Negara yang lebih maju membawa banyak perubahan termasuk budaya dan kesehatan. Sebagai contoh kaum Inuit Kanada memiliki kesehatan yang sangat baik sebelum berbaur dengan Eropa karena lingkungan yang ketat mereka. Penyakit menular jarang terjadi, kecelakaan adalah penyebab kematian utama, pasokan makanan bervariasi dan bergizi, klaparan kadang-kadang terjadi, tapi kekurangan gizi kronis jarang terjadi.
Akan tetapi setelah Eropa menyediakan lapangan kerja di kapal penangkapan ikan paus dan ekspedisi, membayar pekerja dengan barang-barang perdagangan, ransum makanan, kain impor, alkohol, teh, dan tembakau serta beberapa wanita Inuit menjadi istri musiman kapten perburuan paus, pedagang, dan penjelajah. Eropa tidak hanya membawa lapangan kerja dan perdagangan barang, tetapi juga menular penyakit. Banyak Inuit meninggal karena difteri, pneumonia, campak, TBC, dan sifilis. Populasi Pulau Baffin menurun tajam dari sekitar 1.600 di 1840 menjadi 328 pada tahun 1883 karena penyakit dan relokasi.
Misionaris Anglikan datang pada tahun 1894 dan menyediakan makanan, obat-obatan, serta membujuk orang berhenti menggunakan alkohol, mengajarkan orang membaca dan menulis di Inuktitut (bahasa Eskimo) dengan nonsilabik, sebuah Sistem menulis pertama yang dikembangkan oleh misi untuk Cree India. Mereka juga berusaha untuk mendiskreditkan dukun, yang tidak bisa menangani secara efektif penyakit menular. Akan tetapi misi medis tidak bisa menghentikan epidemi.
Epidemiologi, penyakit dan penyebab kematian dialihkan dari kronis, penyakit endemik dan kecelakaan menjadi penyakit epidemi dan kelaparan. Perubahan demografis termasuk penurunan populasi awal dan kemudian populasi pulih mengarah ke masyarakat yang lebih besar dan lebih padat. Perubahan gizi juga signifikan. Selama kontak awal, Inuit semakin tergantung pada ransum tinggi karbohidrat. Pergeseran gizi ini menyebabkan penurunan imunitas selama beberapa generasi.
Selanjutnya dokter dan misi keperawatan dari Inggris, menggantikan praktek ritual dukun. Konsumsi gula yang tinggi melalui permen, dan makanan yang dipanggang telah menjadi tradisi untuk beberapa generasi Inuit. Mereka mengalami pubertas precock selain itu mereka juga terdeteksi mengalami intoleransi glukosa. Setelah era misionaris pada tahun 1960 tidak ditemukan prevalensi tinggi diabetes melitus dan survei lanjutan antara 1991 dan 2001 menunjukkan bahwa Inuit memiliki tingkat lebih rendah untuk diabetes tipe 2 daripada populasi umum Kanada. Kesehatan gigi juga banyak terganggu karena diet tinggi gula dan kurangnya fluoride dalam air, dengan meningkatnya kejadian karies gigi maka banyak orang dewasa telah kehilangan semua gigi mereka dan menggunakan gigi palsu.

Antropologi dan HIV/AIDS
Defisiensi imun pertama kali diidentifikasi pada tahun 1981 sebagai sindrom yang meningkatkan kerentanan terhadap berbagai infeksi, terutama pneumonia dan kanker. Pada 1983, peneliti telah mengidentifikasi kemungkinan penyebab sindrom ini sebagai virus yang menyerang sel limfosit CD4+ yang berpengaruh pada kekebalan tubuh. Terdapat 2 strain virus yaitu HIV-1 dan HIV-2, dengan sembilan sub kelompok diidentifikasi dari masing-masing strain dan nomor sub-subtipe dengan distribusi geografis yang bervariasi.
Anti Retro Viral (ARV) pertama tersedia pada tahun 1987 dan membantu menghambat perkembangan virus HIV. Pasien yang meminum ARV ini dapat bertahan hidup lebih dari 15 tahun tetapi mereka tetap menjadi carrier, perlu pengobatan tanpa batas, dan harus hidup dengan efek samping dari obat. ARV juga berhasil mencegah penularan ibu ke anak.
Pengobatan yang efektif tidak tersedia di negara-negara berpenghasilan rendah pada tahun 1990-an. Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB, menyerukan global trust fund 7 sampai 10 miliar dolar per tahun untuk mendukung upaya besar-besaran untuk pencegahan dan menyediakan penerbangan murah ke tempat pengobatan. Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Gates Foundation mendukung usulan ini dan dana yang dijanjikan. Pada tahun 2005, sebuah Global Fund telah mengeluarkan dana yang mencapai 8 milyar dolar per tahun, jumlah yang masih tidak cukup untuk mencegah epidemi. Penelitian untuk mengembangkan vaksin dimulai pada tahun 1987, tapi setelah lebih dari dua puluh tahun uji klinis, vaksin yang efektif belum ditemukan sampai tahun 2008.
Variabilitas genetik dan tinggi tingkat mutasi virus membuat sulit untuk mengembangkan vaksin yang akan efektif di berbagai jenis HIV atau bentuk baru bermutasi (Esparza, Chang, dan Gayle 2006: 109). HIV dapat menular melalui pemakaian jarum terkontaminasi secara bersama sama, transfusi darah, transplantasi organ, sumbangan jaringan, bayi yang lahir per vaginam dan mendapatkan ASI.
Hubungan antar pengguna narkoba di Amerika menunjukkan peran penting pecandu dan penularan virus HIV. Berdasarkan wawancara terhadap para pecandu narkoba, ternyata pecandu senior selalu berbagi jarum suntik dengan pecandu junior karena mereka beranggapan bahwa apabila bertukar jarum suntik di hari pertama memakai narkoba maka akan dapat menularkan pengalaman mereka kepada junior.
Dalam sudut pandangan pada salah satu masyarakat pedesaan di Nepal, HIV / AIDS masih dikaitkan dengan kepercayaan yang mereka anut. Mereka menganggap orang yang bermoral jelek merupakan kelompok beresiko terkena penyakit HIV/AIDS. Demikian pula kepercayaan dari para pengguna narkoba di Amerika yang terikat tradisi saling membantu diantara mereka, bahkan dalam menyuntikan narkoba kepada temannya tanpa mensterilkan jarum dahulu merupakan resiko besar penyebaran HIV/AIDS. Dalam kelompok pekerja sex mereka menghadapi resiko HIV/AIDS berasal dari pekerjaannya sendiri dan dari pemakaian narkoba. Kepercayaan antara dua orang (seperti cinta) dapat menurunkan kewaspadaan terhadap resiko terkenanya penyakit ini.
Kampanye dengan pemberian informasi tentang perlunya penggantian jarum pada pengguna narkoba memberikan hasil yang cukup memuaskan dalam menurunkan resiko terkenanya HIV/AIDS. Kampanye pada komunitas masyarakat ini dirasakan para antropologist lebih efektif dibandingkan dengan pemaksaan hukum atau medis. Juga perlu diupayakan kampanye dengan jaringan internasional dikarenakan cepatnya penyebaran HIV/AIDS.

Saling menyalahkan
Pandangan terhadap suatu penyakit sering dikaitkan dengan manusianya terkadang juga mempertanyakan siapa yang beresiko, siapakah yang patut disalahkan, dan siapa yang harus bertanggung jawab dan lain-lain. Cara pandang saling menyalahkan ini terkait budaya dan kepercayaan dari masyarakat tersebut.

Gender
Terdapat beberapa pandangan tentang gender pada HIV/AIDS. Di Afrika seorang wanita dapat melemahkan seorang laki-laki sehingga diperlukan adanya pembuktian keperawanan seorang gadis. Beberapa wanita yang merasa diasingkan, dibuang atau yang lain, menganggap kehamilan merupakan suatu hal yang patut dipertahankan, dikarenakan pandangan bahwa hanya bayi itu yang akan menyayangi mereka satu-satunya nanti.

Bab 9.Harga dan Keuntungan dari suatu Perkembangan (Daerah)
Perkembangan suatu daerah yang biasanya diidentikkan dengan perkembangan Ekonomi seperti pada daerah industry di Malaysia terlihat dalam dua sisi. Sisi baik salah satunya terkait integrasi budaya yang saling menguntungkan. Satu sisi lagi terlihat merugikan terkait perubahan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri yang sarat dengan tekanan. Selain dampak perkembangan ini menyebabkan terjadinya pola migrasi baik dari level masyarakat desa sampai masyarakat suatu negara. Migrasi ini juga menimbulkan dampak merugikan dari sisi ekonomi, sosial, budaya, kesehatan dan lain-lain.  Dampak terhadap manusia ini biasanya diikuti oleh dampak terhadap lingkungan yang biasanya cenderung merugikan.

Paradigma Batasan Perkembangan
Pandangan bahwa negara belum berkembang, seusai Perang Dunia ke-2, merupakan negara yang seharusnya cepat mengadaptasi teknologi sehingga dapat menyamai negara berkembang. Seiring waktu pandangan ini dianggap tidak benar dan muncul teori tentang ketergantungan yang menyatakan bahwa negara akan berkembang apabila mengambil sumber daya negara disekitarnya yang lemah. Ketergantungan saat ini tidak dalam bentuk penjajahan suatu negara, melainkan ketergantungan dalam semua aspek.

Menilai Perkembangan
Menurut pandangan anthropologist semestinya yang utama adalah penilaian perkembangan dikaitkan dengan kesejahteraan dan kesehatan masyarakatnya tidak hanya dalam hal ekonomi.

Menilai Efek Kesehatan dari Perkembangan Agrikultur
Kesehatan terkait dengan pasokan makanan. Yang mengherankan kebanyakan masyarakat kekurangan gizi terdapat pada negara yang seharusnya kuat secara agrikultur. Kebanyakan hasil pertanian dan perkebunan dari negara tersebut diperuntukkan ekspor, sementara masyarakatnya sendiri kesulitan membeli karena terlalu mahal.

Strategi untuk meningkatkan kesehatan
            Negara berkembang kesulitan mengalokasikan sumber daya keuangan yang terbatas untuk melakukan kegiatan yang optimal guna menghasilkan perbaikan status kesehatan warga negaranya. Beberapa upaya mereka seperti meningkatkan pendidikan kesehatan, pembangunan infrastruktur kesehatan, menjamin ketersediaan tenaga medis dan pemenuhan pasokan bahan-bahan medis serta kebijakan yang bersinergi.
            Terdapat kesenjangan yang besar antara kesehatan masyarakat yang tinggal di negara-negara miskin dan negara-negara yang kaya. Rerata usia harapan hidup negara miskin antara 40-60 tahun, sedangkan Negara maju mencapai 80 tahun.
            Masalah lain yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan adalah ketimpangan pendapatan. Negara yang memiliki ketimpangan pendapatan yang besar memiliki tingkat kematian lebih tinggi. Derajat kesehatan juga berhubungan dengan kesenjangan pelayanan kesehatan dan perbedaan etnis. Derajat kesehatan juga dipengaruhi oleh kesenjangan antar wilayah atau lingkungan seperti penjara yang tertutup dan wilayah tertentu yang tercemar. 

Bab 10. Antropologi Medis di Tempat Kerja Memenuhi tantangan abad ke 21
Di abad kedua puluh satu manusia menghadapi banyak tantangan untuk kelangsungan hidupnya. Tantangan identifikasi sisa-sisa kerangka manusia, gigi dan tulang untuk mengungkap suatu peristiwa atau kejahatan telah dilakukan oleh antropolog forensik. Kasus 9/11 (9 Nopember) dan kasus identifikasi tentara yang hilang dalam perang Vietnam setelah 25 tahun lalu,.pengungkapan kuburan massal di Argentina dan kejahatan perang di Yugoslavia merupakan contoh karya antropologi forensik.

Penerapan Antropologi
               Peluang karir untuk antropolog medis di negara berkembang adalah sebagai peneliti dan pendidik pada penyedia layanan kesehatan di sekolah-sekolah profesional atau pendidikan preprofessional. 
 
Antropologi dan Kebijakan Publik
               Pengobatan herbal untuk penyakit adalah salah satu keterlibatan antropologist karena mereka harus mempelajari manfaat tumbuhan dan proses penyembuhan dari seluruh daerah di dunia, menelitinya sampai obat boleh dikeluarkan rekomendasi pemakaiannya. 
               Pandemic AIDS seharusnya menjadi pengalaman yang berharga untuk biomedicine, meskipun implikasinya tidak terlihat secara nyata dalam perkembangan terapi obat baru. Dii akhir abad 20, penyakit  infeksi baru yang menjadi emergency setiap tahun adalah AIDS, Ebola, west nile virus, hantavirus. Gambaran dari biomedicine sebagai pelawan, penyembuh, dan pengontrol penyakit mulai usang. Dalam perspektif ekologi  manusia, patogen, tanaman, dan hewan adalah bagian dari ekosistem yang kompleks.

               Nilai antropologi kedokteran terletak pada kebutuhan melihat kesehatan manusia dalam konteks seluas mungkin, suatu konteks yang mencakup sejarah evolusi spesies manusia, keragaman budaya dan masyarakat dimana manusia berkembang dalam tubuh, pikiran, semangat, dan ekosistem.

Mewujudkan Masyarakat Sehat di Kota Delta

Bangga menjadi warga Sidoarjo adalah kata yang dapat saya sampaikan melalui tulisan ini. Kota kelahiran yang memiliki keragaman penduduk dan budaya masyarakat diiringi dengan stabilitas keamanan serta akses kesehatan yang baik menambah rasa nyaman untuk tinggal di kota udang ini. Pada 31 Januari 2016 ini Sidoarjo akan genap berusia 157 tahun, usia yang sudah tidak muda lagi. Sebagai generasi muda di sidoarjo banyak resolusi agar sidoarjo dapat lebih baik dan sehat di tahun 2016 ini. Sebagai pelaku dan pelayan kesehatan masyarakat di lingkungan Kabupaten Sidoarjo ada beberapa harapan pada peningkatan kualitas pelayanan public di bidang kesehatan.
Harapan yang pertama yakni dibentuknya program berbasis online sebagai solusi mengatasi antrian pendaftaran di RS dan puskesmas  sehingga dapat meningkatkan kenyamanan pasien dan mengurangi antrian saat mendaftar di RS maupun Puskesmas karena kita ketahui jumlah kunjungan pasien saat ini meningkat tajam seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan oleh masyarakat Sidoarjo. Dapat kita bayangkan apabila pasien sudah mendapatkan jam atau waktu perkiraan akan mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan di suatu RS atau puskesmas  maka pasien tidak akan berduyun duyun datang pada waktu yang bersamaan. Dengan kondisi seperti ini akan menambah rasa kenyamanan pasien serta mengurangi complain pasien terutama pasien geriatric,anak anak dan pasien yang memiliki disabilitas tertentu.
Harapan kedua yakni terbentuknya satu wadah Website yang menghubungkan antar  RS,Puskesmas,klinik dan layanan kesehatan lain yang berada di lingkungan Kabupaten Sidoarjo sehingga saling terkoneksi dalam satu wadah. Dalam website terebut dapat menunjukkan kompetensi pelayanan tenaga medis, jumlah bed yang terpakai maupun kosong dan jenis pelayanan lain yang dibutuhkan pasien. Kondisi tersebut sangat bermanfaat dalam berbagai aspek,salah satunya adalah manfaat dalam system rujukan  pasien kondisi gawat darurat. Melalui website tersebut pihak yang merujuk dapat melihat tempat rujukan yang memiliki kompetensi pelayanan dan tempat yang masih dapat menampung pasien yang akan dirujuk dengan mudah dan cepat sehingga pasien dapat tertangani dengan aman,cepat,tepat dan professional. Dan diharapkan dengan system rujukan yang seperti itu maka life saving pasien akan dapat ditingkatkan lagi. Dengan terbentuknya wadah tersebut akan membuat warga sidoarjo merasa aman saat dirinya ataupun keluarganya dalam kondisi sakit yang mengancam nyawa sekalipun. Harapan ini dapat lebih bermanfaat lagi apabila dibuatkan suatu aplikasi khusus untuk mengaksesnya. Model rujukan online sebenarnya sudah dilakukan di bidang obgyn melalui si Jari Emas akan tetapi alangkah baiknya bila semua kasus dapat dilakukan model rujukan online seperti itu.

Harapan ketiga yakni Pelayanan spesialis di tingkat Puskesmas seperti yang dilakukan oleh Dinkes DKI Jakarta dan daerah lain di Indonesia. Dengan menempatkan dokter spesialis di Puskesmas di Sidoarjo akan dapat mengurangi jumlah pasien rujukan ke rumah sakit seperti yang terjadi di Jakarta. Dengan adanya spesialis di puskesmas diharapkan juga akan terjadi transfer ilmu pada tenaga medis di puskesmas. Banyak anggapan bahwa spesialis di puskesmas tidak ada gunanya adalah salah besar karena salah satu contoh adalah keberadaan obgynsos (Obsteri gynaecology social) yang merupakan cabang dari disiplin Obgyn yang notabene banyak dikaitkan dengan tindakan SC atau Sectio Sesarean. Obgynsos ini dapat sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama di puskesmas karena obgyn bukan hanya di bidang biomedis saja akan tetapi dipengaruhin oleh factor lingkungan, social, ekonomi dan budaya (biopsikosocial) sehingga diharapkan dengan keberadaan spesialis, salah satu nya obgnysos ini dapat memberikan pelayanan yang paripurna (cure and care). Semoga sedikit tulisan ini dapat bermanfaat,didengar dan direalisasikan oleh pengambil kebijakan di lingkungan Pemkab Sidoarjo.Aamiin.