Website ini mencoba untuk menampilkan pengalaman pribadi di masyarakat Indonesia dan beberapa destinasi wisata yang sangat indah di Indonesia selain itu juga mencoba menampilkan wisata kuliner yang ada di Indonesia maupun saat bertugas menjadi Abdi negara. Melalui website ini kami mencoba mengajak pembaca untuk berpartisipasi dalam program SODAQOH SEHAT dan JUMAT BERHASIL.Program ini kami lakukan untuk membantu sesama yang dalam kondisi sakit dan sangat memerlukan uluran tangan kita
Minggu, 20 Maret 2016
Kamis, 17 Maret 2016
Rabu, 16 Maret 2016
Kamis, 03 Maret 2016
Rabu, 02 Maret 2016
“MEDICAL ANTHROPOLOGY IN ECOLOGICAL PERSPECTIVE (fifth edition)”
Berikut merupakan salah satu review buku yang telah saya baca dan sangat bagus untuk kita jadikan dasar dalam memahami aspek ekologi kesehatan dan penyakit sehingga dapat kita jadikan dasar berpijak dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di Indonesia.
“MEDICAL ANTHROPOLOGY IN ECOLOGICAL PERSPECTIVE (fifth edition)”
Ann Mc Elroy dan Patricia K. Townsend
Bab 1. Aspek ekologi kesehatan dan
penyakit
Antropologi kedokteran mempelajari aspek kesehatan
pada berbagai variasi kondisi lingkungan dan budaya. Dalam antropologi
kedokteran, suatu metode serta teori yang digunakan pada lingkungan yang
luasnya terbatas dan terisolasi dapat digunakan untuk menjelaskan masalah
kesehatan pada situasi komunitas yang lebih kompleks. Untuk lebih memahaminya
kita dapat mengambil contoh suatu penelitian multidisiplin di Nepal yang
meneliti aspek kesehatan, tumbuh kembang serta cara bertahan hidup anak-anak
jalanan di Kathmandu, Nepal. Serta mempelajari bagaimana penduduk di daerah arctic dapat bertahan di lingkungan yang
sangat dingin, usaha mereka untuk mendapatkan makanan, menjaga suhu tubuh
mereka untuk tetap hangat, serta membatasi pertumbuhan penduduk.
Medical ecology dan biocultural anthropology digunakan
oleh medical antropologist untuk mempelajari masalah kesehatan. Kombinasi
antropologi, ekologi dan pengobatan menciptakan suatu framework untuk mengerti masalah kesehatan dari sudut pandang yang
berbeda dari penelitian klinis.
Secara konsep lingkungan dibagi menjadi 3 yakni lingkungan fisik/abiotik,
biotik dan budaya. Setiap unsur saling berkaitan dan akan mempengaruhi unsur
lainnya. Ini merupakan model ekosistem yakni suatu hubungan antara organisme
dengan lingkungannya. Model ini membangun suatu konsep tentang aspek ekologi
dari kesehatan dan penyakit karena tidak ada penyakit yang disebabkan hanya
oleh 1 faktor. Sehat dan sakit terjadi dalam interaksi sistem fisik, biologis
dan budaya yang secara terus menerus saling mempengaruhi.
Bab 2. Penelitian interdisipliner
dalam masalah kesehatan.
Masalah kesehatan dalam konteks ekologi memerlukan
banyak jenis informasi seperti data lingkungan, data klinis, data
epidemiologis, dan data sosial budaya. Untuk mendapatkan data tersebut memerlukan
kontribusi dari ilmu biologi dan lingkungan, kedokteran klinis, demografi dan
biostatistik, dan ilmu sosial dan perilaku. Antropologi medis dan ekologi medis
tergantung pada kerjasama antar disiplin ilmu.
Biodata Lingkungan
Ekologi mempelajari hubungan antara populasi dengan
lingkungan yang merupakan ekosistem. Ekosistem selalu terkait dengan wilayah
geografis tertentu dalam hal ini beberapa disebut dengan bioma yang memiliki
kesamaan sesuai kondisi geografis. Unit dasar ekologi adalah suatu populasi
yang saling berinteraksi dan memiliki aliran energy dimana ada kompetisi untuk
beberapa sumber daya yang sama. Tipe lain dari koeksistensi adalah hubungan
predator-mangsa. Bentuk nyata koeksistensi adalah simbiosis dimana ada
parasitisme komensal dll.
Kedokteran klinis adalah salah satu sumber dasar data
tentang kesehatan dan penyakit untuk studi antropologi medis. Penyakit dapat
didefinisikan sebagai penyimpangan kondisi klinis dan biologis tubuh yang ikut
dipengaruhi oleh lingkungan fisik, mental, social dan budaya.
Epidemiologi adalah
ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit serta fakor yang terkait di
tingkat populasi yang membantu menginformasikan kedokteran berbasis bukti untuk mengidentifikasikan faktor risiko
penyakit serta menentukan pendekatan penanganan klinis yang optimal.
Anthropologi memiliki Sistem Informasi Geografis (GIS)
yang dapat menganalisa penyakit dengan peta geografis, selain itu dalam
anthropologi juga sudah dilakukan studi ethnoscientific dan ethnosemantic.
Profesi anthropologist saat ini sudah menjadi suatu profesi yang membanggakan.
Nutrisi dan Pola
Makan
Nutrisi dan pola makan mempengaruhi
pertumbuhan, bentuk tubuh dan variasi penyakit pada manusia. Penyakit secara
anthropologi juga mempelajari evolusi penyakit sebagai akibat faktor budaya,
migrasi dan urbanisasi.
Sektor pariwisata mempunyai dampak globalisasi
infeksi menular, dimana pada buku ini dibahas penyebaran infeksi menular
seksual (IMS) yang dapat menyebabkan HIV.
Identitas penderita HIV/AIDS dan
pengguna narkoba yang bekerja sebagai informan akan dirahasiakan
Antropologis
Medis
Penilaian
individu terhadap status kesehatan merupakan salah satu faktor yang menentukan
perilaku. Antropolog Edward Wellin menemukan kegagalan dari program departemen
kesehatan Peru dalam membujuk keluarga untuk merebus air minum untuk membunuh
kuman yang menyebabkan diare karena kepercayaan yang dianut masyarakat.
Makna
sakit di masyarakat adalah sejauh ia tidak dapat memenuhi kewajiban normalnya
terhadap warga lain dan ia dianggap berbahaya bagi kelompok tersebut.
Bab 3. Gen ,
Kultur dan Adaptasi
Adaptasi
manusia mencakup berbagai mekanisme, tanggapan, dan ciri-ciri yang meningkatkan
kelangsungan hidup dalam menghadapi tekanan lingkungan. Perubahan genetik
terjadi pada tingkat populasi melalui seleksi alam, migrasi, mutasi dan proses
lainnya. Profil pertama menggambarkan bagaimana perubahan genetik pada
hemoglobin terkait
Adaptasi
adalah perubahan dan variasi dalam suatu populasi yang berkembang dari waktu ke
waktu dalam lingkungan tertentu. Beberapa anthropologists menggunakan istilah
adaptasi untuk merujuk sifat berkembang seperti penglihatan warna,jempol ,
bipedalisme, dan otak besar. Sosiobiologi juga mengacu adaptasi sebagai
karakteristik fisik dan perilaku yang meningkatkan kemampuan dalam mewariskan
gen seseorang atau gen dari kerabat seseorang kepada generasi berikutnya.
Faktor-faktor
yang mendorong perubahan evolusi manusia, dan mekanisme perubahan terjadinya
variabilitas manusia dibentuk oleh stres lingkungan yang merupakan dasar dari adaptasi.
Perbedaan ukuran tubuh dan bentuk tubuh
mencerminkan adaptasi genetik untuk iklim. Tungkai pendek dan kompak serta
tubuh besar dari pemburu Arktik membantu menghemat panas tubuh di iklim dingin
yang ekstrim, sedangkan anggota badan relatif panjang dan fisik linear dari
orang di Afrika Timur dapat membantunya mengusir panas tubuh. Selain bentuk
tubuh dan ukuran tubuh,tempat tinggal juga menggambarkan adaptasi budaya dengan
suhu dalam tubuh. Selain itu bentuk tubuh sangat dipengaruhi oleh faktor
keturunan berinteraksi dengan pola diet, metabolisme, dan aktivitas.
Faktor Genetik
pada Ketahanan Terhadap Suatu Penyakit
Penyakit infeksi memainkan peran
selektif dalam evolusi manusia, terutama
penyakit yang mengurangi tingkat kesuburan dan meningkatkan angka
kematian pada bayi dan anak sehingga menyebabkan perubahan genetik yang sangat
kuat. Penyakit seperti demensia, non-insulin dependent (tipe 2) diabetes, dan
arteriosklerosis, kurang memiki peran dalam terjadinya seleksi karena orang
tersebut telah menyelesaikan proses reproduksi sebelum penyakit berkembang. Manusia,
mikroorganisme penyebab penyakit dan vektor sama sama melakukan adaptasi
genetic untuk dapat menjaga kelangsungan hidupnya.
Evolusi
Pengobatan
Evolusi pengobatan membutuhkan
kolaborasi antara dokter dan antropolog yang berusaha untuk memahami dan
mencegah gangguan metabolisme dan sistem kekebalan tubuh.
Fisiologi Dan
Perkembangan Adaptasi
Tubuh dapat beradaptasi terhadap
berbagai perubahan lingkungan yang berupa kemampuan untuk tumbuh dan berkembang,
respon metabolisme terhadap perubahan iklim dan gizi, stres tanggapan hormonal,
dan pengembangan antibodi dalam menanggapi antigen dan hal tersebut dapat
disebut sebagai plasticity.
Adaptasi fisiologis memiliki beberapa
tingkatan antara lain Aklimasi atau penyesuaian respon adaptasi jangka pendek
pada stressor tunggal dan bersifat reversible. Yang kedua yakni Plastisitas
atau pengembangan konsep aklimatisasi yang dikembangkan oleh Gabriel Lasker
yang menyebutkan plastisitas bersifat ireversibel tetapi bukan merupakan
perubahan yg diturunkan melalui pertumbuhan dan perkembangan (Schell 1995).
Bab 4. Perubahan Pola Penyakit dan
Kesehatan
Budaya
merupakan strategi adaptasi manusia terhadap lingkungan. Budaya juga mengalami
evolusi social budaya yang berupa peningkatan ide, pengetahuandll sehingga
menjadi lebih kompleks. Evolusi budaya ini juga berpengaruh terhadap perubahan
organism penyakit sehingga terjadi pergeseran jumlah dan jenis penyakit. Di
negara-negara industri, penyakit degeneratif menduduki peringkat pertama penyebab
utama kematian. Selain itu, bahaya lingkungan baru dan risiko penyakit akibat
kerja meningkat pada masyarakat industri.
Evolusi
budaya memiliki tiga aspek: peningkatan kompleksitas, meningkatkan energi
mengalir, dan peningkatan ukuran populasi dan kepadatan. Dimensi lain dari evolusi sosial budaya adalah aliran energi melalui sistem. Leslie Putih (1969) adalah pendukung utama dari antropologi pandangan bahwa evolusi budaya secara fundamental ditandai dengan meningkatnya jumlah aliran energi. Dalam masyarakat skala kecil, panas dari kayu bakar dan energy makanan berubah menjadi kekuatan otot mewakili aliran seluruh energi melalui sistem budaya. Dalam perkembangan budaya berkembang, tenaga hewan, tenaga angin, dan air menjadi kekuatan pada masyarakat pertanian. Dalam masyarakat industri, bahan bakar fosil sangat memperluas aliran energi melalui sistem.
mengalir, dan peningkatan ukuran populasi dan kepadatan. Dimensi lain dari evolusi sosial budaya adalah aliran energi melalui sistem. Leslie Putih (1969) adalah pendukung utama dari antropologi pandangan bahwa evolusi budaya secara fundamental ditandai dengan meningkatnya jumlah aliran energi. Dalam masyarakat skala kecil, panas dari kayu bakar dan energy makanan berubah menjadi kekuatan otot mewakili aliran seluruh energi melalui sistem budaya. Dalam perkembangan budaya berkembang, tenaga hewan, tenaga angin, dan air menjadi kekuatan pada masyarakat pertanian. Dalam masyarakat industri, bahan bakar fosil sangat memperluas aliran energi melalui sistem.
Bahaya
bahan-bahan kimia pada masyarakat industri
Bahaya bahan kimia bisa kita lihat pada
tragedi ledakan pipa di daerah padat penduduk yang mengandung bahan toxic Methylisocyanat (MIC) oleh pabtik The
Union Carbide yang menewaskan 20.000 orang tahun 1984 di Bhopal, India Tengah.
Faktor-faktor yang berpengaruh pada kejadian ini termasuk desain yang buruk,
sumber daya manusia yang tidak kompeten, fasilitas pendukung yang kurang memadai,
penanganan masalah emergensi yang kurang, human
error atau mungkin sebuah sabotase ( Shrivastava 1987; APHA 1987; Rajan
2002). Penduduk juga tidak tahu menahu pabrik tersebut memproduksi barang apa. Dampak
dari bencana Bhopal mengingatkan pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung
seperti transportasi, fasilitas medis serta penyelesaian masalah terkait
kecelakaan industry kimia.
Melihat kejadian diatas kelompok
antropologis di Carolina Utara berusaha mengurangi paparan pestisida pada
petani yang tidak waspada dengan bahaya pestisida yang dapat diabsorpsi lewat
kulit, mulut dan paru-paru karena bisa menyebabkan defisit neurologis, kanker
serta infertil.
Perubahan budaya pada masyarakat india
dan Pakistan juga terlihat banyaknya kasus retardasi mental pada anak anak yang
diberi eyeliner hitam karena absorbs timbale sulfide oleh kulit mereka. Timbal
juga bisa meracuni anak-anak dari pemakaian cat tembok rumah, emisi mobil dan
sebagainya. Keracunan merkuri juga sangat banyak terjadi di daerah Minamata,
Jepang, dimana penduduk disana mengkonsumsi ikan atau kerang-kerangan dari
Teluk Minamata. Keracunan akut ditandai dengan rasa kesemutan pada jari, lidah,
bibir serta pandangan kabur, sementara ibu hamil dapat melahirkan bayi dengan
kelainan kongenital, kematian ataupun kerusakan otak.
Bahaya Nuklir
pada daerah industri
Teknologi nuklir jelas memberikan dampak
yang tidak baik bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Banyak efek dari bom-bom
atom yang sudah terbukti memberikan penyakit pada manusia seperti anemia,
leukemia atau kanker lain. Chernobyl , Tanah Navajo (New Mexico), Horosima,
Nagasaki adalah contoh-contoh daerah dengan korban bahan kimia nuklir.
Bab 5. Nilai
Ekologi dan Ekonomi dari Nutrisi
Bentuk diiit terbentuk oleh lingkungan
biofisik dan budaya.. Kultur yang berbeda akan memberikan perbedaan dalam
penyediaan makanan, yang akan memberikakan identitas suatu etnik tertentu.
Manusia memerlukan energy, makro nutrient,mikronutrien dan trace elemen untuk
menjaga kelangsungan hidupnya. Kebutuhan tiap manusia berbeda-beda tergantung usia, jenis kelamin, status
kesehatan, aktifitas serta tingkat metabolisme seseorang. Kelebihan dan
kekurangan elemen gisi dapat menimbulkan seperti Xeropthalmia akibat kekurangan vitamin A yang dapat menimbulkan
kebutaan.
Dalam antropologi medis,perburuan sangat
penting dalam menjaga kelangsungan hidup
sebelum pertanian modern berkembang. Keseimbanngan makanan hewani maupun
nabati dari alam menentukan budaya makan seseorang. Manusia di gurun atau semi
gurun jarang mendapatkan kalori dari produk hewani seperti yang dipelajari oleh
antropologis di Great Basin of North America, Central 7 Western Australia and Kalahari
Desert of South Africa.
Diet dan nutrisi di masa lampau dapat
diketahui dari pemeriksaan kolagen, protein utama pada tulang, rasio isotop
karbon pada beberapa grup tanaman yang berbeda yang dapat merujuk jumlah daging
yang dikonsumsi pada masa sebelumnya. Coprolites,
juga dapat memberikan informasi mengenai nutris seseorangi. Test kimiawi dari
fosil feses, Harris lines pada X-ray
tulang panjang, serta hipoplasia enamel dapat menunjukkan stres nutrisi pada
masa lalu. Berdasarkan hal tersebut paleopathologist
dapat memberikan saran perubahan nutrisi apa yang harus dilakukan seiring
dengan berlalunya waktu. Contohnya adalah penemuan porotic hyperostosis, sebagai
tanda dari anemia defisiensi besi, dimana ditemukan adanya tulang tengkorak dan
tulang rongga mata yang datar, menebal dan porus. Hal ini dikaitkan dengan
nutrisi yang rendah zat besi, serta adanya faktor lain seperti infeksi.
Dengan mempelajari penyakit melalui
catatan arkeologis kita dapat melihat bagaimana perubahan lingkungan, diit,
politis dan ekonomi dalam jangka waktu yang panjang dapat mempengaruhi suatu
populasi. Contoh adalah studi arkeologi pada suku Black Mesa di Amerika timur selatan dimana 87%
menunjukkan anemia, porotic hiperostosis, porus, lesi seperti koral,pada tulang
tertentu seperti tengkorak, orbital, dan pada ujung tulang panjang.
Gizi buruk di daerah perkotaan, dan di
daerah pedesaan di mana orang tergantung pada tanaman, lebih terkait erat
dengan ketimpangan ekonomi daripada ekologi tanaman. Kemiskinan dan pertumbuhan
penduduk berkontribusi terhadap malnutrisi kalori protein pada anak-anak.
Bab 6. Budaya,
Ekologi dan Reproduksi
Konsepsi, kehamilan dan kelahiran
berasal dari peristiwa biologis dan berpola pada budaya. Terdapat variasi ide
budaya dalam peristiwa pembuahan, bagaimana janin berkembang, bagaimana
melindungi wanita hamil, dan di mana kelahiran harus terjadi. Manusia telah
mengembangkan pola reproduksi secara spesifik dengan ciri tingkat kelahiran
yang rendah dan investasi orangtua yang tinggi pada keturunannya.
Tingkat kesuburan dan fertilitas
manusia bervariasi dan dipengaruhi oleh gizi, jenis pekerjaan, dan kesehatan
umum. Praktek untuk meningkatkan fertilitas, metode pengendalian kelahiran, dan
perilaku untuk mencegah penyakit juga bervariasi. Aborsi atau pembunuhan bayi
dalam sejarah Eropa menunjukkan bahwa kemiskinan menempatkan stres khusus pada
ikatan ibu-bayi.
Proses kehamilan dan kelahiran menjadi
suatu industry yang memiliki beragam pola yang menjadi budaya seperti
melahirkan dengan tanggal yang diinginkan, melahirkan dengan SC melahirkan
dalam air, di rumah dll.
Kesehatan reproduksi pada wanita tidak
hanya pada kehamilan dan segala macam proses di dalam nya akan tetapi juga
menangani manajemen menopause. Banyak
pendekatan medis yang sudah dilakukan seperti hormone replacement therapy untuk mengurangi dispareuni.
Fekunditas adalah potensi untuk
bereproduksi sedangkan fertilitas adalah kesuburan seseorang. Banyak hal yang
mempengaruhinya seperti pada fekunditas pria seperti viabilitas sperma
sedangkan pada perempuan kualitas ovum dan musim (Panter-Bricks), sedangkan
fertilitas tergantung pada kondisi fisik dan faktor perilaku.
Fekunditas dan fertility yang tinggi
dapat menyebabkan ledakan penduduk dunia sehingga dilakukan upaya pengendalian
dengan program pembatasan jumlah anak dan kontrasepsi. Kontrasepsi juga
digunakan sebagai alat untuk mencegah infeksi menular seksual. Karena menurut
penelitian di Hartford kebanyakan seorang individu pernah berhubungan seksual
dengan lebih dari satu orang
Disaat ini selain tingginya angka
kelahiran yang harus ditekan, pada penduduk modern saat ini juga memiliki
banyak masalah infertilitas yang banyak dipengaruhi polusi lingkungan akibat
industry dll. Sehingga pada saat ini pengobatan infertilitas juga sangat
berkembang seperti penggunaan metode bayi tabung untuk mengatasi masalah
infertilitas ini
Penggunaan
Pendekatan Dan Metode Antropologi Dalam Upaya Memahami Perilaku Penggunaan
Kondom Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS)
Terdapat
3 tipe dalam orientasi hubungan seksual
yaitu: 1) Kasual Relationship (seks
bebas atau seks untuk uang/materi), 2) Ending
friendship (
pertemanan dekat dengan sesekali melakukan hubungan seksual), 3) More
serious relationship (hubungan seks dengan pacar atau calon pasangan
hidup). Kondom dipakai hanya untuk hubungan tipe 1 dan 2 dengan alasan seks yang
tidak melibatkan hubungan emosional. Sebalikanya kondom tidak akan dipakai dalam hubungan yang lebih serius. Penggunaan
kondom dianggap sebagai bentuk ketidak percayaan terhadap pasangan. Masyarakat memahami bahwa kondom dapat mencegah terjadinya PMS dan penularan HIV/AIDS. Namun
kondom bukan pilihan sebagai alat kontrasepsi.
Proses
Reproduksi Dan Dukungan Sistem Sosial
Syndroma“baby blues” merupakan
kejadian depresi pada ibu yang baru melahirkan. Masyarakat tradisional
menganggap hal ini merupakan gangguan roh jahat, sementara masyarakat barat
(modern) menganggap kejadian ini akibat pengaruh hormonal. Faktor penyebabnya diduga
bermacam-macam, diantaranya perasaan terisolasi, tekanan keuangan, tidak adanya
aktivitas sosial, partus yang tidak direncanakan dan
perasaan kelelahan yang dialami oleh seorang wanita yang baru melahirkan. Sehingga dukungan keluarga sangat diperlukan bagi seorang ibu.
Hubungan Ibu dan
Bayi Baru Lahir
Bayi
sangat tergantung dengan pengasuhan orang lain untuk membantu kehidupannya. Bonding adalah respon dan ikatan
emosional yang dalam, mirip orang jatuh cinta, tidak hanya
bersifat biologis tapindipengaruhi oleh budaya bahkan dimulai sejak ibu merasakan
gerakan janin pada minggu ke-4
kehamilannya.
Ayah juga terlibat dalam ikatan
emosional yang kuat dengan anakknya, bahkan sejak di dalam kandungan, pada saat. Laki-laki akan terlihat ekspresif saat
istrinya hamil, melahirkan dan sesudah melahirkan. Keterlibatan ayah selama
proses kehamilan sampai persalinan sering luput dari perhatian.
Berdasarkan penelitian
diketahui bahwa bayi yang dipisahkan dari ibunya kakan memiliki imunitas yang walaupun mereka diberikan asupan gizi dan
nutrisi yang cukup. Setelah dipertemukan kembali, anak akan terlihat
tertekan dan menghindari ibunya.
Bonding
menjelaskan bila “perode sensitif” telah terlewati, masa-masa setelahnya sulit
untuk menciptakan ikatan yang kuat..
Budaya sangat berpengaruh dalam bonding. Di Amerika Utara yang angka
kematian bayinya rendah terdapat tradisi hadirnya keluarga besar dalam proses
menanti kelahiran bayi, berbeda dengan daerah angka kematian bayi
tinggi, mereka menunda ekspresi kegembiraan sampai kondisi ibu
dan bayi benar-benar stabil.
Bab 7. Stress,
penyakit dan penyembuhan
Distribusi luas
dari gangguan seperti skizofrenia dan depresi dengan gangguan yang lebih langka
yang disebut sindrom budaya-terikat, gangguan perilaku akut biasanya terbatas
pada budaya daerah tertentu (Simons dan Hughes 1985). Salah satu sindrom
budaya-terikat paling dipelajari oleh antropolog medis adalah histeria Arktik,
atau pibloktoq, gangguan terlihat di daerah kutub. Arktik histeria adalah
kondisi sementara daripada penyakit mental kronis. Contoh pasien, biasanya
seorang wanita, mulai berteriak dan merobek dan menghancurkan pakaiannya. Jika
di kapal, dia akan berjalan naik dan turun dek, berteriak dan isyarat, dan
umumnya dalam keadaan telanjang, meskipun suhu mungkin berada di empat puluhan.
Sebagai intensitas serangan meningkat, dia kadang-kadang akan melompati rel
atau es, berjalan mungkin setengah mil. Serangan dapat berlangsung beberapa
menit, satu jam, atau bahkan lebih; dan beberapa penderita menjadi begitu liar
bahwa mereka akan terus berjalan di atas es sempurna telanjang sampai mereka
membeku sampai mati jika mereka tidak secara paksa dibawa kembali. (Dikutip
dalam Foulks 1972: 13)
Mengklasifikasikan
syndrome budaya-terikat
Simons dan Hughes (1985) membagi
syndrome budaya-terikat menjadi lima kategori utama: kelumpuhan tidur,
penyerangan massa tiba-tiba, penyakit demam, paksaan kanibal, dan kecemasan
tentang retraksi genital. Selanjutnya, pengecualian beberapa sindrom, termasuk
histeria Arktik. Beberapa sindrom budaya-terikat melibatkan respon
neurofisiologis, Sindrom budaya-terikat bervariasi secara epidemiologis, orang
Yunani dan Kanada, Nevra kebanyakan mempengaruhi perempuan. Amok, bentuk
histeria di New Guinea, Indonesia, dan Malaysia, kebanyakan terjadi di kalangan
pria muda.
Teori stres menawarkan model yang
berguna menghubungkan lingkungan, budaya, individu kesehatan, dan kesejahteraan
penduduk. Dalam studi stres sosial, penelitian terbaik desain mencoba untuk
menghubungkan faktor biokimia dengan sosial dan lingkungan tekanan. Tanpa data
neuroendocrinologi, antropolog tidak mampu untuk mempelajari jalur biokimia
yang dapat menyebabkan penyakit mental, kecanduan, dan sindrom budaya-terikat.
Demikian pula, tanpa pertimbangan sosial budaya matriks kesehatan dan penyakit,
perspektif biokimia gagal untuk memperhitungkan untuk peran emosi, belajar, kognisi,
dan stressor simbolis dalam resistensi manusia dan adaptasi.
Bab 8. Health Resources pada
Perubahan Budaya
Perubahan budaya yang cepat adalah
salah satu stres yang paling menghancurkan pada populasi kesehatan. Perubahan
budaya yang dihasilkan dari eksplorasi, perdagangan, migrasi dan bentuk budaya
lain di populasi mempengaruhi ekologi kesehatan dalam banyak cara. Perawatan
kesehatan yang melibatkan perilaku diselenggarakan untuk pemeliharaan
kesehatan, pencegahan penyakit fisik atau tekanan emosional, dan untuk
manajemen penyakit atau cacat.
Kebutuhan pengungsi akibat bencana alam
dan konflik politik menciptakan tantangan bagi negara-negara tuan rumah, pekerja
bantuan dan organisasi serta ilmuwan sosial. Krisis kesehatan yang ditimbulkan
oleh HIV/AIDS adalah ujian bagi kebijakan publik kesehatan, etika medis, dan
sumber daya keuangan di setiap negara. Penelitian tentang penularan dan
pencegahan HIV/AIDS menggambarkan faktor budaya, sosial, dan politik yang mempengaruhi
dampak penyakit ini secara global.
Model untuk
Studi Proses Kontak
Perubahan kesehatan yang mengikuti
kontak budaya terjadi dalam empat kategori utama: epidemiologi, demografi,
gizi, dan kesehatan yang saling terkait sinergis. Ketika ada perubahan dalam
satu sistem, kita dapat mengharapkan perubahan dalam tiga lainnya. Misalnya,
peningkatan kejadian penyakit (epidemiologi) dapat menyebabkan tingkat kematian
yang lebih tinggi di antara kelompok usia termuda (mengarah ke perubahan
demografi).
Dampak dari
budaya
Hubungan antara negara yang terbelakang
dengan Negara yang lebih maju membawa banyak perubahan termasuk budaya dan
kesehatan. Sebagai contoh kaum Inuit Kanada memiliki kesehatan yang sangat baik
sebelum berbaur dengan Eropa karena lingkungan yang ketat mereka. Penyakit
menular jarang terjadi, kecelakaan adalah penyebab kematian utama, pasokan
makanan bervariasi dan bergizi, klaparan kadang-kadang terjadi, tapi kekurangan
gizi kronis jarang terjadi.
Akan tetapi setelah Eropa menyediakan
lapangan kerja di kapal penangkapan ikan paus dan ekspedisi, membayar pekerja
dengan barang-barang perdagangan, ransum makanan, kain impor, alkohol, teh, dan
tembakau serta beberapa
wanita Inuit menjadi istri musiman kapten perburuan paus, pedagang, dan
penjelajah. Eropa
tidak hanya membawa lapangan kerja dan perdagangan barang, tetapi juga menular
penyakit. Banyak
Inuit meninggal karena difteri, pneumonia, campak, TBC, dan sifilis. Populasi
Pulau Baffin menurun tajam dari sekitar 1.600 di 1840 menjadi 328 pada tahun
1883 karena penyakit dan relokasi.
Misionaris Anglikan datang pada tahun
1894 dan menyediakan makanan, obat-obatan, serta membujuk orang berhenti
menggunakan alkohol, mengajarkan orang membaca dan menulis di Inuktitut (bahasa
Eskimo) dengan nonsilabik, sebuah Sistem menulis pertama yang dikembangkan oleh
misi untuk Cree India. Mereka juga berusaha untuk mendiskreditkan dukun, yang
tidak bisa menangani secara efektif penyakit menular. Akan tetapi misi medis
tidak bisa menghentikan epidemi.
Epidemiologi, penyakit dan penyebab
kematian dialihkan dari kronis, penyakit endemik dan kecelakaan menjadi
penyakit epidemi dan kelaparan. Perubahan demografis termasuk penurunan
populasi awal dan kemudian populasi pulih mengarah ke masyarakat yang lebih
besar dan lebih padat. Perubahan gizi juga signifikan. Selama kontak awal,
Inuit semakin tergantung pada ransum tinggi karbohidrat. Pergeseran gizi ini menyebabkan
penurunan imunitas selama beberapa generasi.
Selanjutnya dokter dan misi keperawatan
dari Inggris, menggantikan praktek ritual dukun. Konsumsi gula yang tinggi
melalui permen, dan makanan yang dipanggang telah menjadi tradisi untuk
beberapa generasi Inuit. Mereka mengalami pubertas precock selain itu mereka
juga terdeteksi mengalami intoleransi glukosa. Setelah era misionaris pada
tahun 1960 tidak ditemukan prevalensi tinggi diabetes melitus dan survei
lanjutan antara 1991 dan 2001 menunjukkan bahwa Inuit memiliki tingkat lebih
rendah untuk diabetes tipe 2 daripada populasi umum Kanada. Kesehatan gigi juga
banyak terganggu karena diet tinggi gula dan kurangnya fluoride dalam air, dengan
meningkatnya kejadian karies gigi maka banyak orang dewasa telah kehilangan
semua gigi mereka dan menggunakan gigi palsu.
Antropologi dan
HIV/AIDS
Defisiensi imun pertama kali
diidentifikasi pada tahun 1981 sebagai sindrom yang meningkatkan kerentanan
terhadap berbagai infeksi, terutama pneumonia dan kanker. Pada 1983, peneliti
telah mengidentifikasi kemungkinan penyebab sindrom ini sebagai virus yang menyerang
sel limfosit CD4+ yang berpengaruh pada kekebalan tubuh. Terdapat 2 strain
virus yaitu HIV-1 dan HIV-2, dengan sembilan sub kelompok diidentifikasi dari
masing-masing strain dan nomor sub-subtipe dengan distribusi geografis yang
bervariasi.
Anti Retro Viral (ARV) pertama tersedia
pada tahun 1987 dan membantu menghambat perkembangan virus HIV. Pasien yang
meminum ARV ini dapat bertahan hidup lebih dari 15 tahun tetapi mereka tetap
menjadi carrier, perlu pengobatan tanpa batas, dan harus hidup dengan efek samping
dari obat. ARV juga berhasil mencegah penularan ibu ke anak.
Pengobatan yang efektif tidak tersedia di
negara-negara berpenghasilan rendah pada tahun 1990-an. Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB, menyerukan
global trust fund 7 sampai 10 miliar
dolar per tahun untuk mendukung upaya besar-besaran untuk pencegahan dan
menyediakan penerbangan murah ke tempat pengobatan. Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan
Gates Foundation mendukung usulan ini dan dana yang dijanjikan. Pada tahun
2005, sebuah Global Fund telah mengeluarkan dana yang mencapai 8 milyar dolar
per tahun, jumlah yang masih tidak cukup untuk mencegah epidemi. Penelitian
untuk mengembangkan vaksin dimulai pada tahun 1987, tapi setelah lebih dari dua
puluh tahun uji klinis, vaksin yang efektif belum ditemukan sampai tahun 2008.
Variabilitas genetik dan tinggi tingkat
mutasi virus membuat sulit untuk mengembangkan vaksin yang akan efektif di
berbagai jenis HIV atau bentuk baru bermutasi (Esparza, Chang, dan Gayle 2006:
109). HIV dapat menular melalui pemakaian jarum terkontaminasi secara bersama
sama, transfusi darah, transplantasi organ, sumbangan jaringan, bayi yang lahir
per vaginam dan mendapatkan ASI.
Hubungan antar pengguna narkoba di
Amerika menunjukkan peran penting pecandu dan penularan virus HIV. Berdasarkan
wawancara terhadap para pecandu narkoba, ternyata pecandu senior selalu berbagi
jarum suntik dengan pecandu junior karena mereka beranggapan bahwa apabila
bertukar jarum suntik di hari pertama memakai narkoba maka akan dapat
menularkan pengalaman mereka kepada junior.
Dalam sudut pandangan pada salah satu
masyarakat pedesaan di Nepal, HIV / AIDS masih dikaitkan dengan kepercayaan
yang mereka anut. Mereka menganggap orang yang bermoral jelek merupakan kelompok
beresiko terkena penyakit HIV/AIDS. Demikian pula kepercayaan dari para
pengguna narkoba di Amerika yang terikat tradisi saling membantu diantara
mereka, bahkan dalam menyuntikan narkoba kepada temannya tanpa mensterilkan
jarum dahulu merupakan resiko besar penyebaran HIV/AIDS. Dalam kelompok pekerja
sex mereka menghadapi resiko HIV/AIDS berasal dari pekerjaannya sendiri dan
dari pemakaian narkoba. Kepercayaan antara dua orang (seperti cinta) dapat
menurunkan kewaspadaan terhadap resiko terkenanya penyakit ini.
Kampanye dengan pemberian informasi
tentang perlunya penggantian jarum pada pengguna narkoba memberikan hasil yang
cukup memuaskan dalam menurunkan resiko terkenanya HIV/AIDS. Kampanye pada
komunitas masyarakat ini dirasakan para antropologist lebih efektif
dibandingkan dengan pemaksaan hukum atau medis. Juga perlu diupayakan kampanye
dengan jaringan internasional dikarenakan cepatnya penyebaran HIV/AIDS.
Saling
menyalahkan
Pandangan terhadap suatu penyakit sering
dikaitkan dengan manusianya terkadang juga mempertanyakan siapa yang beresiko,
siapakah yang patut disalahkan, dan siapa yang harus bertanggung jawab dan
lain-lain. Cara pandang saling menyalahkan ini terkait budaya dan kepercayaan
dari masyarakat tersebut.
Gender
Terdapat beberapa pandangan tentang
gender pada HIV/AIDS. Di Afrika seorang wanita dapat melemahkan seorang
laki-laki sehingga diperlukan adanya pembuktian keperawanan seorang gadis.
Beberapa wanita yang merasa diasingkan, dibuang atau yang lain, menganggap
kehamilan merupakan suatu hal yang patut dipertahankan, dikarenakan pandangan
bahwa hanya bayi itu yang akan menyayangi mereka satu-satunya nanti.
Bab 9.Harga dan
Keuntungan dari suatu Perkembangan (Daerah)
Perkembangan suatu daerah yang biasanya
diidentikkan dengan perkembangan Ekonomi seperti pada daerah industry di
Malaysia terlihat dalam dua sisi. Sisi baik salah satunya terkait integrasi
budaya yang saling menguntungkan. Satu sisi lagi terlihat merugikan terkait
perubahan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri yang sarat dengan
tekanan. Selain dampak perkembangan ini menyebabkan terjadinya pola migrasi
baik dari level masyarakat desa sampai masyarakat suatu negara. Migrasi ini
juga menimbulkan dampak merugikan dari sisi ekonomi, sosial, budaya, kesehatan
dan lain-lain. Dampak terhadap manusia
ini biasanya diikuti oleh dampak terhadap lingkungan yang biasanya cenderung
merugikan.
Paradigma
Batasan Perkembangan
Pandangan bahwa negara belum berkembang,
seusai Perang Dunia ke-2, merupakan negara yang seharusnya cepat mengadaptasi
teknologi sehingga dapat menyamai negara berkembang. Seiring waktu pandangan
ini dianggap tidak benar dan muncul teori tentang ketergantungan yang
menyatakan bahwa negara akan berkembang apabila mengambil sumber daya negara
disekitarnya yang lemah. Ketergantungan saat ini tidak dalam bentuk penjajahan
suatu negara, melainkan ketergantungan dalam semua aspek.
Menilai
Perkembangan
Menurut pandangan anthropologist semestinya
yang utama adalah penilaian perkembangan dikaitkan dengan kesejahteraan dan
kesehatan masyarakatnya tidak hanya dalam hal ekonomi.
Menilai Efek
Kesehatan dari Perkembangan Agrikultur
Kesehatan terkait dengan pasokan
makanan. Yang mengherankan kebanyakan masyarakat kekurangan gizi terdapat pada
negara yang seharusnya kuat secara agrikultur. Kebanyakan hasil pertanian dan
perkebunan dari negara tersebut diperuntukkan ekspor, sementara masyarakatnya
sendiri kesulitan membeli karena terlalu mahal.
Strategi untuk
meningkatkan kesehatan
Negara berkembang kesulitan
mengalokasikan sumber daya keuangan yang terbatas untuk melakukan kegiatan yang
optimal guna menghasilkan perbaikan status kesehatan warga negaranya. Beberapa
upaya mereka seperti meningkatkan pendidikan kesehatan, pembangunan
infrastruktur kesehatan, menjamin ketersediaan tenaga medis dan pemenuhan
pasokan bahan-bahan medis serta kebijakan yang bersinergi.
Terdapat kesenjangan yang besar
antara kesehatan masyarakat yang tinggal di negara-negara miskin dan negara-negara
yang kaya. Rerata usia harapan hidup negara miskin antara 40-60 tahun, sedangkan
Negara maju mencapai 80 tahun.
Masalah lain yang dapat mempengaruhi
derajat kesehatan adalah ketimpangan pendapatan. Negara yang memiliki ketimpangan
pendapatan yang besar memiliki tingkat kematian lebih tinggi. Derajat kesehatan
juga berhubungan dengan kesenjangan pelayanan kesehatan dan perbedaan etnis.
Derajat kesehatan juga dipengaruhi oleh kesenjangan antar wilayah atau
lingkungan seperti penjara yang tertutup dan wilayah tertentu yang
tercemar.
Bab 10.
Antropologi Medis di Tempat Kerja Memenuhi tantangan abad ke 21
Di abad kedua puluh satu manusia
menghadapi banyak tantangan untuk kelangsungan hidupnya. Tantangan identifikasi
sisa-sisa kerangka manusia, gigi dan tulang untuk mengungkap suatu peristiwa
atau kejahatan telah dilakukan oleh antropolog forensik. Kasus 9/11 (9
Nopember) dan kasus identifikasi tentara yang hilang dalam perang Vietnam
setelah 25 tahun lalu,.pengungkapan kuburan massal di Argentina dan kejahatan perang
di Yugoslavia merupakan contoh karya antropologi forensik.
Penerapan Antropologi
Peluang karir untuk antropolog medis di negara berkembang adalah sebagai peneliti dan pendidik pada penyedia layanan kesehatan di sekolah-sekolah profesional atau pendidikan preprofessional.
Antropologi dan Kebijakan Publik
Pengobatan herbal untuk penyakit adalah salah satu keterlibatan antropologist karena mereka harus mempelajari manfaat tumbuhan dan proses penyembuhan dari seluruh daerah di dunia, menelitinya sampai obat boleh dikeluarkan rekomendasi pemakaiannya.
Pandemic AIDS seharusnya menjadi pengalaman yang berharga untuk biomedicine, meskipun implikasinya tidak terlihat secara nyata dalam perkembangan terapi obat baru. Dii akhir abad 20, penyakit infeksi baru yang menjadi emergency setiap tahun adalah AIDS, Ebola, west nile virus, hantavirus. Gambaran dari biomedicine sebagai pelawan, penyembuh, dan pengontrol penyakit mulai usang. Dalam perspektif ekologi manusia, patogen, tanaman, dan hewan adalah bagian dari ekosistem yang kompleks.
Nilai antropologi kedokteran terletak pada kebutuhan melihat kesehatan manusia dalam konteks seluas mungkin, suatu konteks yang mencakup sejarah evolusi spesies manusia, keragaman budaya dan masyarakat dimana manusia berkembang dalam tubuh, pikiran, semangat, dan ekosistem.
Mewujudkan Masyarakat Sehat di Kota Delta
Bangga
menjadi warga Sidoarjo adalah kata yang dapat saya sampaikan melalui tulisan
ini. Kota kelahiran yang memiliki keragaman penduduk dan budaya masyarakat
diiringi dengan stabilitas keamanan serta akses kesehatan yang baik menambah
rasa nyaman untuk tinggal di kota udang ini. Pada 31 Januari 2016 ini Sidoarjo
akan genap berusia 157 tahun, usia yang sudah tidak muda lagi. Sebagai generasi
muda di sidoarjo banyak resolusi agar sidoarjo dapat lebih baik dan sehat di
tahun 2016 ini. Sebagai pelaku dan pelayan kesehatan masyarakat di lingkungan
Kabupaten Sidoarjo ada beberapa harapan pada peningkatan kualitas pelayanan
public di bidang kesehatan.
Harapan
yang pertama yakni dibentuknya program berbasis online sebagai solusi mengatasi
antrian pendaftaran di RS dan puskesmas sehingga
dapat meningkatkan kenyamanan pasien dan mengurangi antrian saat mendaftar di
RS maupun Puskesmas karena kita ketahui jumlah kunjungan pasien saat ini
meningkat tajam seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan oleh
masyarakat Sidoarjo. Dapat kita bayangkan apabila pasien sudah mendapatkan jam
atau waktu perkiraan akan mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan di suatu
RS atau puskesmas maka pasien tidak akan
berduyun duyun datang pada waktu yang bersamaan. Dengan kondisi seperti ini akan
menambah rasa kenyamanan pasien serta mengurangi complain pasien terutama
pasien geriatric,anak anak dan pasien yang memiliki disabilitas tertentu.
Harapan
kedua yakni terbentuknya satu wadah Website yang menghubungkan antar RS,Puskesmas,klinik dan layanan kesehatan lain
yang berada di lingkungan Kabupaten Sidoarjo sehingga saling terkoneksi dalam
satu wadah. Dalam website terebut dapat menunjukkan kompetensi pelayanan tenaga
medis, jumlah bed yang terpakai maupun kosong dan jenis pelayanan lain yang dibutuhkan
pasien. Kondisi tersebut sangat bermanfaat dalam berbagai aspek,salah satunya
adalah manfaat dalam system rujukan pasien
kondisi gawat darurat. Melalui website tersebut pihak yang merujuk dapat
melihat tempat rujukan yang memiliki kompetensi pelayanan dan tempat yang masih
dapat menampung pasien yang akan dirujuk dengan mudah dan cepat sehingga pasien
dapat tertangani dengan aman,cepat,tepat dan professional. Dan diharapkan
dengan system rujukan yang seperti itu maka life
saving pasien akan dapat ditingkatkan lagi. Dengan terbentuknya wadah
tersebut akan membuat warga sidoarjo merasa aman saat dirinya ataupun
keluarganya dalam kondisi sakit yang mengancam nyawa sekalipun. Harapan ini
dapat lebih bermanfaat lagi apabila dibuatkan suatu aplikasi khusus untuk
mengaksesnya. Model rujukan online sebenarnya sudah dilakukan di bidang obgyn
melalui si Jari Emas akan tetapi alangkah baiknya bila semua kasus dapat
dilakukan model rujukan online seperti itu.
Harapan
ketiga yakni Pelayanan spesialis di tingkat Puskesmas seperti yang dilakukan
oleh Dinkes DKI Jakarta dan daerah lain di Indonesia. Dengan menempatkan dokter
spesialis di Puskesmas di Sidoarjo akan dapat mengurangi jumlah pasien rujukan
ke rumah sakit seperti yang terjadi di Jakarta. Dengan adanya spesialis di
puskesmas diharapkan juga akan terjadi transfer ilmu pada tenaga medis di
puskesmas. Banyak anggapan bahwa spesialis di puskesmas tidak ada gunanya
adalah salah besar karena salah satu contoh adalah keberadaan obgynsos (Obsteri gynaecology social) yang
merupakan cabang dari disiplin Obgyn yang notabene banyak dikaitkan dengan
tindakan SC atau Sectio Sesarean. Obgynsos ini dapat sangat bermanfaat bagi
masyarakat terutama di puskesmas karena obgyn bukan hanya di bidang biomedis
saja akan tetapi dipengaruhin oleh factor lingkungan, social, ekonomi dan
budaya (biopsikosocial) sehingga diharapkan dengan keberadaan spesialis, salah
satu nya obgnysos ini dapat memberikan pelayanan yang paripurna (cure and care). Semoga sedikit tulisan
ini dapat bermanfaat,didengar dan direalisasikan oleh pengambil kebijakan di
lingkungan Pemkab Sidoarjo.Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)

























