WAAH SUDAH LAKU!
Sosoknya yang tinggi
besar, kumis yang lebat, rambutnya yang agak keriting, kulit yang sawo matang,
suara yang berat dengan sebatang rokok yang setia menghiasi bibirnya setiap
saat membuat orang sering tertipu dengan penampilannya. Sosoknya yang angker
itu akan hilang apabila kita mulai sedikit menyapa dan mengajaknya berbincang.
Walaupun bungkus luarnya yang tak seindah tikus-tikus politik tenar yang kotor
di negeri ini aku tetap bangga dengan beliau karena separuh dari DNA (deoxyribonucleic acid) yang ia miliki
telah mewarnai ramainya komposisi kode genetic di tubuhku yang sekarang ini
sehingga memberikan fenotipe yang sangat membenci dengan yang dinamakan kolusi,
korupsi dan nepotisme yang sedang menjadi trendsetter saat ini. Terlebih saat
para politikus busuk sedang membombardir penduduk dengan amalan-amalan
pamrihnya agar mereka bahu-membahu menyumbangkan suaranya .
Malam itu saat aku
berbincang dengan seluruh penghuni rumah leluhur itu tiba-tiba suara nyaring
kereta baja buatan jepang tiba-tiba datang, membius nyanyian jangkrik yang
hingga saat ini masih ramai di rumah leluhurku. Tak lama kemudian menggemalah
salam kepalsuan dari speaker bel yang ada di ruang keluarga. Bergegaslah aku
membukakan pintu untuknya. Senyum palsu pun merekah manis dari pria berjas itu
bak kotoran kerbau yang baru keluar dari tempat persembunyiannya, dengan tanpa
basa-basi diapun menanyakan orang yang akan dia cari. Dan akupun
mempersilahkannya untuk mencicipi empuknya kursi kayu yang tidak akan dia temui
di istananya.
“Siapa Le?”,dengan merdu pertanyaanya
sampai di lobus pendengaran otakku.
“Biasa, yang seperti
kemarin-kemarin kemari,” kalimat itupun keluar dari mulutku dengan lantang
tanpa tersensor sedikitpun. Mungkin sudah bosan aku bertemu dengan makhluk yang
muncul ke rumahku dalam siklus lima
tahunan itu.
Tak lama kemudian
keluarlah laki-laki berkumis tersebut dari balik kelambu ruang keluarga dengan
atribut resminya, yakni sebatang racun berasap itu.
“Assalamualaikum, wah
sudah lima
tahun tidak bertemu semakin gemuk dan necis saja pak Anton ini!” sambil
menghembuskan asap perusak generasi bangsa beliau menyapa makhluk yang sudah
bermetamorfosis itu.
Mendengar ucapan itu,
tertawa aku dalam pikirku. Betapa tidak, perut yang buncit entah karena ascites
atau terisi dengan barang-barang haram itu sungguh lucu. Padahal seingatku dia
dulu kurus kering tak terawat.
“Ada
perlu apa Pak Anton datang kemari ?,sudah lima
tahun ini anda belum pernah datang lagi kemari. Mau mengemis suara lagi pak?” sambil
membuang muka pecandu tembakau itu mengiterogasi Pak Anton. “Anda masih ingat
dengan janji Anda pada masyarakat saat akan mencalonkan dulu ? tentu anda sudah
lupa ya? wajar kok pak huk..huk..huk”
“Sebenarnya…”
“Ah bapak ini jangan suka
membual di depan saya! sudah khatam saya dengan kicauan bapak saat berbincang
dengan saya” ,dengan nada tinggi pria itu menyela Pak Anton yang terlihat
tertunduk malu. Serentak suasana hangat yang timbul diantara dua orang lelaki
edisi tahun enam puluhan itu dingin sejenak diiringi pahatan kulit di dahi yang
mulai menajam.
Serasa melihat setan saja
diriku saat itu. Seumur-umur belum pernah aku melihat pertunjukan perokok berat
itu mempertontonkan lidahnya yang setajam samurai. Tapi persetan dengan hal
itu, menurutku hal itu wajar melihat kelakuan Si Anton yang lupa daratan dan
mengubur dalam-dalam suara rakyat yang dulu dia gembor-gemborkan saat dia masih
menjadi pengemis suara. Selain itu, dalam setiap proyek pembangunn yang
dikerjakan olehnya, selaku pemenang tender, selalu kurang maksimal. Pernah pula
aku tanyakan pada pekerjanya perihal mutu bahan yang dia gunakan ternyata
selalu dibawah standar. Wah..wah sudah berapa uang rakyat yang sudah disunatnya
saat dia menjadi tender.
Tak berapa lama perokok
itu berbincang lagi dengan Pak Anton, dan setelah durasi dua jam perbincangan
itupun diakhiri. “ Oke pak, anda beri saja saya uang anda cukup …… rupiah, saya
jamin seratus persen pasti anda akan mendulang banyak suara”. Tanpa basa-basi
Pak Anton dengan senyuman harimaunya mengeluarkan uang permintaan tersebut dan
segera mengucapkan salam perpisahan.
Tentu saja aku bingung
dengan yang dilakukan oleh pria perokok tadi. Dimana prinsip yang dia tularkan
kepadaku saat aku masih bau kencur sampai sekarang? Saat kutanya pun dia hanya
tersenyum simpul dengan meninggalkan segudang pertanyaan yang membuatku sulit
tidur. “Kamu liat saja Jawa Pos esok pagi!” sambil mempermainkan keypad
handphone nya pria itu tertawa asik.
Keesokan harinya,
tiba-tiba di gazebo belakang rumah aku mendengar tawa seisi rumah yang menggelegar.
Akupun penasaran dengan yang mereka tertawakan. Bergegas aku meninggalkan
laptopku yang sejak shubuh tadi menyanyikan lagu-lagu merdu kesukaanku dan
menjadi pelampiasan kekesalan otak dan tanganku.
Betapa kagetnya aku saat
melihat kolom iklan Jawa Pos. Terpampang dengan lebar dan berwarna, foto
pengemis suara rakyat yang tadi malam mengunjungi rumahku. Di foto itu juga
dihiasi dengan kata-kata mutiara yang sangat menarik.”Berani dengan harga
tinggi, suara anda dalam pemilu tahun 2009. Bila berminat hubungi nomor telepon
di bawah ini. Dijamin tidak ada unsur penipuan di dalamnya. Dapatkan doorprize
bagi pengirim 1000 sms pertama atas ketersediaannya dalam memilih saya.”
Terjawab sudah
pertanyaanku tadi malam. Sambil tertawa seisi rumah pun mengucapkan kalimat
yang senantiasa ada di kolom iklan jitu Jawapos.
“Waah, sudah laku”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar