Jumat, 20 November 2015

Cerpenku jaman dahulu kala hehehe

WAAH SUDAH LAKU!
Sosoknya yang tinggi besar, kumis yang lebat, rambutnya yang agak keriting, kulit yang sawo matang, suara yang berat dengan sebatang rokok yang setia menghiasi bibirnya setiap saat membuat orang sering tertipu dengan penampilannya. Sosoknya yang angker itu akan hilang apabila kita mulai sedikit menyapa dan mengajaknya berbincang. Walaupun bungkus luarnya yang tak seindah tikus-tikus politik tenar yang kotor di negeri ini aku tetap bangga dengan beliau karena separuh dari DNA (deoxyribonucleic acid) yang ia miliki telah mewarnai ramainya komposisi kode genetic di tubuhku yang sekarang ini sehingga memberikan fenotipe yang sangat membenci dengan yang dinamakan kolusi, korupsi dan nepotisme yang sedang menjadi trendsetter saat ini. Terlebih saat para politikus busuk sedang membombardir penduduk dengan amalan-amalan pamrihnya agar mereka bahu-membahu menyumbangkan suaranya .
Malam itu saat aku berbincang dengan seluruh penghuni rumah leluhur itu tiba-tiba suara nyaring kereta baja buatan jepang tiba-tiba datang, membius nyanyian jangkrik yang hingga saat ini masih ramai di rumah leluhurku. Tak lama kemudian menggemalah salam kepalsuan dari speaker bel yang ada di ruang keluarga. Bergegaslah aku membukakan pintu untuknya. Senyum palsu pun merekah manis dari pria berjas itu bak kotoran kerbau yang baru keluar dari tempat persembunyiannya, dengan tanpa basa-basi diapun menanyakan orang yang akan dia cari. Dan akupun mempersilahkannya untuk mencicipi empuknya kursi kayu yang tidak akan dia temui di istananya.
“Siapa Le?”,dengan merdu pertanyaanya sampai di lobus pendengaran otakku.
“Biasa, yang seperti kemarin-kemarin kemari,” kalimat itupun keluar dari mulutku dengan lantang tanpa tersensor sedikitpun. Mungkin sudah bosan aku bertemu dengan makhluk yang muncul ke rumahku dalam siklus lima tahunan itu.
Tak lama kemudian keluarlah laki-laki berkumis tersebut dari balik kelambu ruang keluarga dengan atribut resminya, yakni sebatang racun berasap itu.
“Assalamualaikum, wah sudah lima tahun tidak bertemu semakin gemuk dan necis saja pak Anton ini!” sambil menghembuskan asap perusak generasi bangsa beliau menyapa makhluk yang sudah bermetamorfosis itu.
Mendengar ucapan itu, tertawa aku dalam pikirku. Betapa tidak, perut yang buncit entah karena ascites atau terisi dengan barang-barang haram itu sungguh lucu. Padahal seingatku dia dulu kurus kering tak terawat.
Ada perlu apa Pak Anton datang kemari ?,sudah lima tahun ini anda belum pernah datang lagi kemari. Mau mengemis suara lagi pak?” sambil membuang muka pecandu tembakau itu mengiterogasi Pak Anton. “Anda masih ingat dengan janji Anda pada masyarakat saat akan mencalonkan dulu ? tentu anda sudah lupa ya? wajar kok pak huk..huk..huk”
“Sebenarnya…”
“Ah bapak ini jangan suka membual di depan saya! sudah khatam saya dengan kicauan bapak saat berbincang dengan saya” ,dengan nada tinggi pria itu menyela Pak Anton yang terlihat tertunduk malu. Serentak suasana hangat yang timbul diantara dua orang lelaki edisi tahun enam puluhan itu dingin sejenak diiringi pahatan kulit di dahi yang mulai menajam.
Serasa melihat setan saja diriku saat itu. Seumur-umur belum pernah aku melihat pertunjukan perokok berat itu mempertontonkan lidahnya yang setajam samurai. Tapi persetan dengan hal itu, menurutku hal itu wajar melihat kelakuan Si Anton yang lupa daratan dan mengubur dalam-dalam suara rakyat yang dulu dia gembor-gemborkan saat dia masih menjadi pengemis suara. Selain itu, dalam setiap proyek pembangunn yang dikerjakan olehnya, selaku pemenang tender, selalu kurang maksimal. Pernah pula aku tanyakan pada pekerjanya perihal mutu bahan yang dia gunakan ternyata selalu dibawah standar. Wah..wah sudah berapa uang rakyat yang sudah disunatnya saat dia menjadi tender.
Tak berapa lama perokok itu berbincang lagi dengan Pak Anton, dan setelah durasi dua jam perbincangan itupun diakhiri. “ Oke pak, anda beri saja saya uang anda cukup …… rupiah, saya jamin seratus persen pasti anda akan mendulang banyak suara”. Tanpa basa-basi Pak Anton dengan senyuman harimaunya mengeluarkan uang permintaan tersebut dan segera mengucapkan salam perpisahan.
Tentu saja aku bingung dengan yang dilakukan oleh pria perokok tadi. Dimana prinsip yang dia tularkan kepadaku saat aku masih bau kencur sampai sekarang? Saat kutanya pun dia hanya tersenyum simpul dengan meninggalkan segudang pertanyaan yang membuatku sulit tidur. “Kamu liat saja Jawa Pos esok pagi!” sambil mempermainkan keypad handphone nya pria itu tertawa asik.
Keesokan harinya, tiba-tiba di gazebo belakang rumah aku mendengar tawa seisi rumah yang menggelegar. Akupun penasaran dengan yang mereka tertawakan. Bergegas aku meninggalkan laptopku yang sejak shubuh tadi menyanyikan lagu-lagu merdu kesukaanku dan menjadi pelampiasan kekesalan otak dan tanganku.
Betapa kagetnya aku saat melihat kolom iklan Jawa Pos. Terpampang dengan lebar dan berwarna, foto pengemis suara rakyat yang tadi malam mengunjungi rumahku. Di foto itu juga dihiasi dengan kata-kata mutiara yang sangat menarik.”Berani dengan harga tinggi, suara anda dalam pemilu tahun 2009. Bila berminat hubungi nomor telepon di bawah ini. Dijamin tidak ada unsur penipuan di dalamnya. Dapatkan doorprize bagi pengirim 1000 sms pertama atas ketersediaannya dalam memilih saya.”
Terjawab sudah pertanyaanku tadi malam. Sambil tertawa seisi rumah pun mengucapkan kalimat yang senantiasa ada di kolom iklan jitu Jawapos.
“Waah, sudah laku”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar