Kamis, 19 November 2015

Sudahkah kita melihat sekeliling kita?

         Turut berduka cita atas meninggalnya sejawat saya dr. Dionisius Giri Samudra yang gugur saat tengah menjalani internship (magang) di Puskesmas Dobo, Kota Tual, Maluku Tenggara. Sungguh miris mendengar berita itu disaat sehari sebelum HKN kita peringati. Infrastrukutur medis dan nonmedis yang sangat minim serta transportasi pun lagi-lagi menjadi kambing hitam atas kejadian ini karena jarak tempuh menuju RS di Ambon memerlukan waktu 3,5 jam dengan jadwal boarding yang tidak rutin sehingga pahlawan muda ini meregang nyawa saat penduduk di pedalaman membutuhkan uluran tangan yang telah siap dia berikan.
Berbagai macam pemberitaan hingga terdengar bahwa dr. Andra tidak dapat dievakuasi karena minimnya gaji sebagai dokter internship yang hanya  Rp 2,5 juta per bulan. Sebagai dokter yang pernah mengenyam program Internship di Kabupaten Trenggalek peristiwa ini sudah menjadi hal yang sangat lazim. Sebelumnya gaji dokter internship yang tidak lebih dari 1,5 juta saja sudah membuat sejawat dokter harus memutar otak untuk bertahan hidup di daerah saat itu. Gaji tersebut juga sering di rapel dalam 3 bulan sekali.
Kita bisa bayangkan betapa bingungnya sejawat internship kami apabila sedang dilanda sakit dan memerlukan pengobatan di kota yang notabene ongkos pesawat nya dapat menghabiskan gaji mereka. Untuk biaya hidup saja teman-teman dokter harus berhemat.

Kita bisa bayangkan, dokter internship saja tak mampu membayar evakuasi, bagaimana saudara kita di di pedalaman selama ini saat berhadapan dengan penyakit yang menentukan hidup dan mati mereka? Pernahkah sejenak kita memikirkan nasib mereka?Akan banyak jawaban mengenai pertanyaan simple ini.
Sebagai dokter yang saat bekerja di daerah yang boleh dibilang "Kota" pun saya juga masih sangat prihatin dengan keadaan sarpras kesehatan di pinggiran yang masih dalam kualifikasi kurang layak. Akses menuju tempat pelayanan kesehatan seperti puskesmas pun masih susah dijangkau.Melalui blog sederhana ini saya mencoba menggambarkan kondisi saudara-saudara kita yang masih belum mendapatkan kehidupan yang layak seperti kita.Mari kita mengingat dan merenungkan kembali nilai luhur kita sebagai pelaya kesehatan masyarakat. Semoga dengan blog ini humanisme kita dapat meredam nilai kapitalis dan materialistis yang sudah merasuki jiwa kita.
Berikut salah satu kegiatan pengabdian teman teman dari Puskesmas Prorong Kabupaten Sidoarjo untuk melakukan pemeriksaan di salah satu sekolah yang sangat sulit dijangkau meskipun berada di salah satu kota Industri di Jawa Timur.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar