Mencoba mengingat kembali esai
yang pernah saya buat sebelum HKN 11-04-2008 yang lalu.Ternyata sampai sekarang
pun Indonesia Sehat 2010 memang tidak terjadi. Apakah sudah dikaji kegagalan
rencana itu?Apa tindak lanjut dari Petinggi kita?
Indonesiaku Sehat 2010 Sudah Semakin Dekat.
Sering kita
melihat poster ataupun baliho di jalan yang melontarkan program Indonesia sehat
2010. Akan tetapi, “Realistiskah target yang diimpikan oleh segenap warga
Indonesia tersebut ?” atau, “Hal tersebut hanya sebatas angan-angan yang
menantang dan inspiratif tapi tidak relistis”. Target yang sudah dicanangkan
sejak tahun 1999 pada masa kekuasaan Presiden Habibi memang telah mengalami
suatu kemajuan yang cukup berarti melalui berbagai model pembiayaan kesehatan
seperti askeskin yang tak lama ini sudah berganti nama, berbagai kemajuan pada
intervensi teknis dalam bidang kesehatan serta perbaikan organisasi dan
manajemen kesehatan di Indonesia. Bahkan pada saat ini banyak undang-undang di
bidang kesehatan yang mem-back up-nya baik itu undang-undang no 25 tahun
1999 tentang desentralisasi kesehatan, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1202/Menkes/SK/VIII/2003 tentang indikator Indonesia sehat dan banyak lagi yang
lain.
Walaupun pada
saat ini sudah ada kemajuan yang amat pesat dalam bidang kesehatan baik dalam
pembiayaan, organisasi, manajemen kesehatan serta undang-undang yang mendukung,
hal tersebut tetap tidak bisa digunakan sebagai tolak ukur untuk mengatakan
program Indonesia sehat akan terwujud. Banyaknya undang-undang tersebut
seolah-olah hanya menjadi suatu wacana dalam simposium antara petinggi dalam
bidang kesehatan tanpa ada suatu promosi yang bersifat pro aktif dari para stakeholders yang menginginkan target tersebut
tercapai, yakni pemerintah dan tenaga kesehatan.
Sering kali
kita hanya melihat penduduk akan ke rumah sakit dan memanfaatkan program
askeskin apabila penyakit yang mereka derita mulai menimbulkan sign dan symptoms
yang benar-benar sangat mengganggu mereka, tidak pernah ada tindakan dan keinginan yang nyata dari
pemerintah dan tenaga kesehatan untuk merubah pola ini melalui pendidikan
kesehatan yang dilakukan setiap seminggu sekali ataupun screening gratis
yang dilakukan di seluruh daerah di Indonesia sebagai suatu tindakan prevensi
dan early case finding terhadap timbulnya penyakit. Bahkan biaya untuk
screening dan vaksinasi hepatitis B saja masih kurang dapat dijangkau oleh
masyarakat kelas bawah.
Dana askeskin
yang digunakan oleh rakyat pada saat penyakit yang dialaminya sudah parah akan
membuat hutang pemerintah terhadap rumah sakit semakin bertambah saja. “Mengapa
hal tersebut terjadi ?” Sebagai contoh, dana yang dibutuhkan dalam menangani
penyakit pada pasien yang menderita Tuberculosis yang sudah kronis dan
penderita yang kumannya telah bermetastase menuju otak, tulang dan organ lain (extra
pulmonary TB) akan lebih menghabiskan uang negara saja dibandingkan
penderita yang terdiagnosa pada awal mula penyakit dan mendapatkan suatu
pengobatan antibiotika seperti Isoniazid, Rifampisin, Pyrazinamid,
Ethambutol dan Streptomisin serta adanya compliance dari
penderita melalui program DOTS (Directly Observed Treatment Short-course). Selain itu dapat dibayangkan
seberapa bahaya penyakit yang menurut SKRT
(Survey Kesehatan Rumah Tangga) tahun 1995 menduduki tempat ketiga
penyebab kematian di Indonesia dalam menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan
sekitarnya karena sebelum timbul sign dan symptoms yang mengganggu, 90 % pasien yang terinfeksi
penyakit akibat kuman Mycobacterium tuberculosis ini secara klinis tidak
sakit tetapi hanya didapatkan tes Tuberkulin positif yang akhirnya orang tersebut menjadi carrier.
Sehingga dapat kita bayangkan berapa orang yang akan diajak oleh penderita
untuk ikut merasakan sensasi penyakit tersebut karena pada satu kali batuk
penderita bisa meng-ekspor kurang lebih 3000 droplets kuman pada lawan
bicaranya.
Sejenak kita
tertegun dengan pengumuman depkes yang mengeluarkan hasil CDR (Case
Detection Rate) terhadap kasus Tuberculosis pada tahun 2007 yang mencapai
74% ataupun SR (Success Rate) pengobatan Tuberculosis yang mencapai
89,7% melebihi target WHO sebesar 85% , “Luar biasa sekali !” dan bila
diteruskan program ini akan membumi hanguskan kuman Mycobacterium
tuberculosis ini dari bumi
pertiwi. Selain itu ada juga laporan bahwa terdapat penurunan trend insiden
Tuberculosis di masyarakat sebesar 128/100.000 pada tahun 1999 menjadi
107/100.000 pada tahun 2005. Akan tetapi, “Apakah itu sudah menunjukkan bahwa
keadaan di lapangan memang seperti itu ?”, “Apakah studi epidemiologi tersebut
sudah dilakukan dengan dengan screening pada seluruh penduduk?” ataukah “hanya
estimasi berdasarkan data yang diperoleh dari laporan rumah sakit di Indonesia
saja”. Tidak muluk-muluk, kita mengutip hasil survey yang dilakukan oleh
Koalisi Indonesia Sehat di 15 kabupaten kota atau kota tahun 2005 yang
menyebutkan hanya 20 responden yang bisa menyebutkan gejala Tuberculosis dengan
benar dan yang paling parah 46 responden yang mengatakan bahwa pengobatan
Tuberculosis dapat dihentikan sendiri apabila dia sudah merasa baik, dan hal
ini akan dapat meningkatkan penemuan MDR (Multi Drugs Resistance)
Tuberculosis.
Selain masalah
pemberantasan Tuberculosis yang seolah “sukses” masih ada program askeskin yang
sedang gencar dilakukan, “Apakah askeskin dapat menolong balita-balita kita
yang baru-baru ini diberitakan di media masa mengalami gizi buruk ?”, yang
akhirnya kejadian tersebut merenggut nyawa mereka. Padahal kita tahu pada masa
balita terjadi perkembangan otak yang optimal, jadi dapat kita bayangkan
bagaimana kualitas intelegensi mereka bila gizi buruk menerpanya saat balita.
“Akan seperti apa kualitas young guns Indonesia di masa yang akan dating
?”. Apakah bukan lebih baik kita melakukan intervensi ke masyarakat secara
langsung sebelum gizi buruk tersebut timbul, baik itu melalui peningkatan
fungsi dan kegiatan puskesmas sebagai pertahanan lini pertama sistem kesehatan
di Indonesia dengan jalan promosi kesehatan seminggu sekali dan diiringi
screening penyakit secara gratis pada tingkat desa. Selain itu pemerintah juga
dapat mengajak mahasiswa maupun pelajar di bidang kesehatan untuk
berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dan pemerintah juga dapat bekerja sama
dengan sentra pendidikan di kesehatan di Indonesia untuk membantu kegiatan
tersebut. Bahkan dengan cara seperti itu, sentra pendidikan akan turut
diuntungkan karena mereka mendapatkan data tentang prevalensi penyakit di
Indonesia secara akurat, bukannya perkiraan prevalensi penyakit pada masyarakat
yang tentunya menganut prinsip ‘ice phenomenon’ atau data yang tidak
nampak lebih besar daripada data yang terdeteksi berdasarkan data kunjungan
rumah sakit, selain itu akan dapat dibuat suatu peta sebaran kuman di wilayah
Indonesia.
Selain itu
visi dan misi Indonesia sehat seolah tinggal impian ketika negara kita memiliki
kekayaan kasus kematian akibat timbulnya wabah infeksi Avian Influensa atau flu
burung akibat virus H5N1 ataupun timbulnya berita manusia akar akibat menderita
virus HPV (Human Papilloma Virus) type 16 yang menarik perhatian
akademisi dan pelaku kesehatan dari Amerika.
“Mari kita
bayangkan sejenak, apabila kesadaran akan pentingnya kesehatan maupun case
finding terhadap penyakit dibangun oleh pemerintah sejak dini, tentu tidak akan
timbul masalah seperti ini dan yang pasti tidak akan keluar dana yang sudah
pasti lebih besar”. Disamping sederetan peristiwa tadi, masih mengantri
kejadian yang menunjukkan bahwa impian untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010
akan sulit dicapai.
Menilai
pencapaian indikator Indonesia sehat yang telah ditetapkan dalam Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 1202/Menkes/SK/VIII/2003 diatas, akan timbul satu pertanyaan, “Apakah
sudah dicapai ?”, sudah tentu belum. Indikator terhadap kesehatan memang sangat
diperlukan karena dengan adanya indikator sebagai alat yang sudah memenuhi
syarat SMART (Simple, Measurable, Attributable, reliable, dan Timely)
tersebut, data yang kita dapatkan untuk menilai indikator proses dan masukan
(manajemen dan pelayanan kesehatan, SDM kesehatan), indikator hasil antara
(perilaku kesehatan masyarakat, akses mutu dan akses kesehatan) serta indikator
hasil akhir (morbiditas, mortalitas, status gizi) akan lebih akurat. Akan
tetapi masalahnya, “Apakah data yang dibuat sudah mencerminkan keadaan
sesungguhnya dalam masyarakat ?”, tentu saja belum.
Oleh karena
itu, perlu suatu kerja ekstra keras bagi seluruh kesehatan untuk membuat mimpi
ini menjadi suatu kenyataan karena 2010 sudah sangat dekat, sedangkan keadaan
kesehatan di Indonesia ini masih jauh dari baik, terlebih lagi bila
dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Demi mewujudkan
hal tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan sikap yang lebih aktif dari
tenaga kesehatan dalam mencari penyakit secara dini di masyarakat dan
menimbulkan kesadaran untuk berperilaku sehat. Semoga hal ini menjadi suatu
pertimbangan bagi para petinggi Negara yang kaya akan penyakit ini. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar