Sebenarnya semanggi adalah jenis tanaman yang daunnya bisa dimakan. Sama halnya seperti kangkung, bayam, daun pepaya, dan dedaunan lain yang biasa dimasak sayur. Bentuk daunnya seperti lambang keriting pada kartu remi. Di Indonesia sangat mudah ditemukan di pematang sawah atau di tepi-tepi sungai.
Setelah dipetik, daun semanggi dibersihkan lalu
direndam air panas selama beberapa saat. Dalam penyajiannya ia kemudian
dipadukan dengan tauge yang juga sudah direbus. Semanggi bercampur tauge
diletakkan di atas daun pisang yang sudah dibentuk segitiga, alias pincuk dalam
bahasa suroboyo. Kemudian diberi bumbu cokelat kental yang dituangkan di
atasnya. Bumbu itu dibuat khusus dari perpaduan dari ketela, kacang tanah, dan
gula merah.

Tampilan semanggi mirip
dengan pecel madiun atau pecel sayur. Dedaunan yang disiram bumbu kecokelatan.
Namun cita rasa semanggi berbeda dari pecel. Bumbunya menciptakan rasa manis
saat dicecap lidah. Bukan hanya manis gula merah, tetapi juga ketela rambat.
Biasanya, seperti pecel, bumbu itu dibuat padat. Saat disajikan, baru dicampur air sehingga lebih encer. Terkadang rasa dan teksturnya masih kental akan ketela atau ubi. Itu berpadu dengan gurih semanggi dan tauge.
Tidak cukup hanya daun semanggi, tauge, dan bumbu yang membuat makanan itu disukai. Semanggi juga biasanya disajikan dengan kerupuk puli, atau biasa disebut kerupuk gendar yang terbuat dari beras, berukuran besar juga membuat cita rasanya makin gurih.
Makanan khas Surabaya
ini dapat ditemukan di beberapa tempat seperti di area pedestrian Masjid Agung
Surabaya, Taman Bungkul dll. Rata-rata penjual Semanggi ini ibu-ibu dengan
membawa gendongan.
Bagi yang penasaran
silahkan ke tempat tadi dan menikmati citarasa Semanggi Suroboyo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar